Senin, 05 September 2016

Musi Banyuasin dan Banyuasin, Apa Bedanya?

Musi Banyuasin dan Banyuasin adalah nama 2 kabupaten di Sumatera Selatan. Dua kabupaten yang bersebelahan ini dulunya adalah 1 kesatuan kabupaten. Sejarahnya, wilayah sebelah timur dari Kabupaten Musi Banyuasin, memisahkan diri menjadi kabupaten baru dengan nama Kabupaten Banyuasin sejak tahun 2002. Kabupaten Musi Banyuasin setelah pemekaran menguasai wilayah barat dan ber-ibukota di Sekayu, sedangkan Kabupaten Banyuasin menguasai wilayah timur yang berbatasan langsung dengan Selat Bangka, dan ber-ibukota di Pangkalan Balai.

Logo Kabupaten Musi Banyuasin

Logo Kabupaten Banyuasin



Jadi jelas donk, terjawab sudah pertanyaannya. Musi Banyuasin dan Banyuasin jelas sangat berbeda. Cuma kebetulan aja namanya mirip-mirip.

Saya sendiri adalah warga Kabupaten Musi Banyuasin (atau biasa disingkat Muba). Tepatnya di Sungai Lilin.



Trus knp km post tentang ini rif?


Karena saya risau. Nggak sedikit orang yang nyangka, Musi Banyuasin adalah Banyuasin, dan sebaliknya.

Emang siapa yang suka salah?


Banyak.

Pertama, temen-temen saya. Mereka tau saya asalnya dari Musi Banyuasin. Tapi sering banget mereka tanya, "Nggak pulang ke Banyuasin rif?"

Teman, plis deh. Musi Banyuasin dan Banyuasin adalah dua nama yang berbeda. Jangan disamain deh.

Ini kekonyolan kedua setelah banyak orang yang menyangka saya orang Lampung.


Kedua, para wartawan. Masih anget nih beritanya: Bupati Banyuasin tertangkap tangan KPK.


Nah dari berita itu, lalu banyak orang yang salah kira, yang ditangkap adalah Bupati Musi Banyuasin. Oh man, please. Itu bukan bupati kami. Itu bupati kabupaten sebelah. Kami beda.

Sampai terbitlah berita ini:


Teman, kasihan pak bupati. Dia jadi korban salah sangka. Oke lah kemarin bupati kami memang sempat kena tangkap KPK juga. Tapi bukan berarti lantas kalian boleh menghubung-hubungkan kasus yang baru ini dengan kabupaten kami lagi.

Dari salah paham ini, bukan kami aja yang sering dirugikan. Saudara kandung kami itu (Kab Banyuasin) juga sering dirugikan. Penyebabnya? Ya karena banyak orang yang lebih suka menyebut "banyuasin" daripada "musi banyuasin". Padahal itu beda.

Contohnya dulu saat kasus Bupati Musi Banyuasin ditangkap KPK. Bapak kos panggil saya.

"Rif! Itu Bupati Banyuasin ketangkap KPK loh! Bupati kamu kan?"

Hadeuh.. si Bapak.. Salah sangka dia..

"Bapak, yang ditangkap itu bener bupati saya. Tapi bukan bupati Banyuasin, itu bupati Musi Banyuasin. Beda pak"

"Oh gitu ya? Kirain sama. Hihi"

Zzz..

So, teman. Sekarang kan udah tau nih, Musi Banyuasin dan Banyuasin jelas berbeda. Jangan disamain lagi ya. Kalo masalah biar gampang nyebutnya, dan nggak kepanjangan, kami punya singkatan nama kok. Sebut aja MUBA, pastinya lebih gampang daripada "Musi Banyuasin" kan?

Rabu, 17 Agustus 2016

Terminal 3 SHIA: Dipaksa siap?

Sejak awal bulan ini, sudah 4 kali saya terbang dengan maskapai yang sama: Garuda Indonesia.

Dimulai dari tanggal 2 Agustus, dengan GA132 tujuan Jambi (CGK-DJB), kembali tanggal 5 Agustus dengan GA135 tujuan Jakarta (DJB-CGK). Keberangkatan dan kedatangan di Jakarta semua melalui terminal 2F Bandara Soekarno Hatta. Keberangkatan berjalan mulus, checkin lancar, delay tidak ada, boarding mulus. Pun kedatangan, semua lancar.

Flight ketiga, saya dan rombongan menuju Denpasar Bali tanggal 9 Agustus dengan GA420. Lagi, dari Soetta. Tapi lewat terminal baru, terminal 3 ultimate, karena terhitung efektif sejak 9 Agustus lalu, semua penerbangan domestik Garuda Indonesia dipindahkan ke Terminal 3 Ultimate. Terminal baru yang kabarnya baru diresmikan sehari sebelumnya, yang digadang-gadang jadi yang terbesar dan termodern di Indonesia. Rasanya amazing juga bakal nyicipin terminal baru yang kalo dilihat dari gambarnya yang cakep dan cantik.

Semua perbangan domestik Garuda Indonesia pindah ke T3 Ultimate
(sumber: garuda-indonesia.com)


Dan bener! Terminal 3 Ultimate emang beneran gagah dan megah! Interiornya juga menawan. Berkelas lah.

Tapi...

Dibalik ke-WOW-an itu, ada banyak keluhan yang saya dan penumpang lainnya rasakan. Keluhan yang mengesankan Terminal 3 Ultimate sengaja dipaksakan untuk siap.

Keluhan-keluhan juga saya rasakan saat datang dari Denpasar dengan GA653.

Pembangunan masih belum 100% selesai

Masih banyak bagian-bagian gedung terminal yang under construction. Banyak yang ditutup partisi. Pekerja bangunan dengan alat-alatnya juga banyak yang mondar-mandir.
Lantai paling bawah, terminal kedatangan. Sebagian masih under construction

Bagasi < 5 kg ditolak counter check in

Maksudnya, bagasi dengan berat kurang dari 5 kg, tidak diterima di counter check in. Karena (katanya) sistem timbangannya nggak bisa menimbang barang yang beratnya kurang dari 5 kg. Penumpang harus membawa sendiri barang-barangnya yang "ditolak" ke counter khusus untuk barang yang < 5 kg. Agak merepotkan sih.

Barang yang ditolak counter checkin harus dibawa sendiri ke counter khusus itu. Jangan khawatir, petugasnya ramah kok

Layanan self check-in masih belum berfungsi

Uniknya di T3 ultimate sudah ada layanan self check-in loh. Penumpang bisa check in sendiri pake komputer yang tersedia. Tapi begitu saya tengok, eh sistemnya masih belum jalan.

Salah satu komputer untuk self check-in. Masih error

Komputer self check-in yang tersedia


Sinyal handphone terganggu

Entah kenapa, tapi setidaknya ini dirasakan banyak orang ketika menelepon. Sinyal terputus-putus, seperti ada gangguan. Dan ini juga sempat saya lihat beritanya di TV. Pihak terkait sempat menepis isu bahwa pengelola T3 mengganggu sinyal handphone penumpang.

Banyak elevator belum berfungsi

Buat kamu yang males turun naik on foot, dan lebih suka pake elevator, mungkin ini nggak nyaman buat kamu. Banyak elevator yang belum berfungsi.

Gerai masih minim

Yang suka jajan, nggak banyak loh pilihan gerai makanan/minuman atau merchandise di T3. Kalaupun ada, itu pun kelihatan darurat militer banget. Tapi dilihat dari banyak partisi-partisi dengan banner besar berlogo gerai-gerai terkenal, mungkin nanti akan banyak juga gerai-gerai disana. Jangan khawatir.

Calon gerai FnB yang masih under construction


Praying room, kau dimana? 

Masih sulit cari mushola di T3. Sulit karena jumlahnya sedikit, dan petunjuknya masih minim. Tapi setelah dapat, mushola di terminal keberangkatan lumayan nyaman dan lega.

Pengalaman kurang menyenangkan saya rasakan saat tiba dari Denpasar. Saya mendarat jam 15.00 WIB. Karena tidak sholat Jumat, saya harus mengganti sholat dzuhur dan segera sholat ashar. Tiba di terminal kedatangan, kami "dipaksa" berjalan cukup jauh. Berputar dari ujung satu ke ujung lainnya. Dan sepanjang jalan, saya nggak menemukan satupun petunjuk lokasi mushola. Yang ada cuma toilet. Kok rasanya seperti bukan di Indonesia ya?

Sampai akhirnya tiba di pintu keluar, saya tanya petugas, katanya ada mushola di luar gedung. Kami pun keluar. Tapi setiba di luar, mana musholanya? Kami tanya lagi petugas lainnya, lucunya dia bilang tidak ada mushola di luar, adanya di dalam gedung. Kami masuk kembali. Dan gate pemeriksaan menyambut kami. Tetap sesuai prosedur, semua yang masuk harus diperiksa, termasuk kami.

Dengan barang yang segitu banyak, kami harus bongkar semua, masukkan di belt x-ray, copot jaket, jam tangan, dll. Oke lah, asalkan di dalam nanti ada mushola, saya bisa sholat, pikir saya. Tapi begitu masuk, mana musholanya? Nggak ada. Petugas bilang, silakan naik satu lantai lalu keluar. Agak dongkol sih, tapi kami ikuti juga. Kami lewati pintu pemeriksaan di lantai 2, tanpa diperiksa, karena kami keluar gedung. Pikir saya, jangan sampai nanti lewat pemeriksaan ini lagi, kami harus bongkar muatan lagi.

Dan benar, ternyata di luar nggak ada juga musholanya. Iya, kami harus memutar lagi, lewat pintu pemeriksaan lagi. Dan disana sudah ada mas-mas AVSEC ganteng yang siap dengan stick detector logamnya. Iyeee... kita kudu bongkar muatan lagi sodara-sodara. Zebel nggak sih?

Dan kami harus naik satu lantai lagi. Anda tau itu artinya kami dimana? Kami di terminal keberangkatan, Wow! Kami mau berangkat lagi.

Alhamdulillah disana sudah ada mushola...

Layanan shuttel bus masih darurat militer


Belum ada counter tiket di dalam gedung terminal pun di luar gedung. Halte pun masih darurat sekali, tanpa atap, hanya ada kursi. Bahkan kursinya pun sempat dipindahkan petugas saat penumpang lagi rame-ramenya. Dengan alasan mau ada maintenance. Heh banget nggak sih?

Suasana di halte shuttle bus. Penumpang menumpuk, menunggu bus yang lama banget



Petugas memindahkan kursi di halte shuttle bus, saat penumpang sedang ramai-ramainya


Yang lebih ngeselin lagi, jadwal bus yang datang masih tidak teratur. Lama nunggunya, sekalinya datang banyak banget, ke berbagai tujuan, dan rata-rata sudah penuh. Saya yang menuju Bogor, sempat menaikkan barang ke bagasi bus, sudah pula naik masuk ke dalam bus, tapi terpaksa turun dan ambil barang lagi karena bus sudah penuh.

Mungkin akan lebih nyaman kalo ada bus khusus yang memang parkir di T3 atau masing-masing terminal lainnya. Kalo bus muter dulu ke T1 lalu T3 jadi yang terakhir didatangi, wajar donk kalo penumpang di T3 nggak kebagian kursi karena sudah penuh semua.



Dan sekarang saya sedang di T3 ultimate lagi. Menanti flight GA106 menuju Palembang. Dan ada lagi keluhan yang saya rasakan, dipindah gate dari gate 15 ke gate 12. Heh...

Belum lagi ada berita terminal kedatangan tergenang air karena hujan lebat. Rasanya Terminal 1 yang nyaris sudah seperti terminal bis itu pun kalo hujan lebat nggak sampe kebanjiran loh. Masa iya Terminal 3 yang sebegini kerennya kok bisa banjir.

Kesan Terminal 3 SHIA dipaksa siap kental banget. Walaupun pihak terkait sempat menepis dengan bilang bahwa ini bukan buru-buru. Hanya supaya Terminal 3 existing bisa segera dikosongkan supaya menyatu dengan Terminal 3 ultimate sehingga bisa menjadi letter U penuh. Begitu katanya.

Sebenernya secara desain sih terminal ini keren banget. Ada usaha ramah lingkungan, terlihat dari pencahayaan yang lebih memaksimalkan dari cahaya matahari. Banyak juga pajangan-pajangan yang mirip seperti galeri seni. Cakep buat foto-foto.


Lukisan Soekarno-Hatta, salah satu karya seni yang dipajang di T3 Ultimate



Dengan banyaknya keluhan karena ketidaksiapan yang mengesankan Terminal 3 Ultimate dipaksa siap, semoga ini cuma masalah waktu. Segera terminal ini bisa (beneran) jadi yang wah se-Indonesia.

Minggu, 29 Mei 2016

Cari Aplikasi Perekam Layar? Pakai Powerpoint Saja

Lagi cari aplikasi perekam layar untuk disimpan dalam bentuk video? Ngapain repot-repot. Sampe cari bajakan segala. Pakai Powerpoint aja!

Kamu punya keinginan berbagi ilmu dalam bentuk tutorial? terutama yang berkaitan dengan komputer semisal tutorial photoshop, tutorial coreldraw, tutorial yiiframework, tutorial coding, dsb. Pasti kamu butuh aplikasi perekam layar. Ya kan? Yah asalkan tutorial yang kamu kasih bukan tutorial pasang alis mata aja ya

....


Nah! Daripada ribet cari kemana-mana, pakai Powerpoint aja deh. Sekelas Powerpoint mah pasti punya lah ya. Sebelum ente install macem-macem, Word Excel Powerpoint pasti jadi tiga serangkai wajib yang kudu ente install duluan kan? Sip!

Emang pake Powerpoint bisa rif?


Bisa donk! Gini caranya:

  1. Pastikan kamu udah install Office
    Ini wajib. Pastikan aplikasi Office sudah terinstall. Minimal tiga serangkai tadi lah. Disini saya pakai Office 2016. Saya kurang tau juga apakah fungsi perekam layar ini ada di versi Office sebelumnya. Tapi rasanya sih sudah ada di versi 2013.
  2. Klik menu Insert
    Klik menu Insert, lalu di tab paling kanan (tab Media), kamu akan menemukan Screen Recording. Silakan diklik. Maka akan muncul semacam popup di atas tengah layar.

  3. Atur area yang akan direkam
    Kamu boleh mengatur hanya sebagian aja area yang akan direkam di layar PC km, atau keseluruhan. Klik aja Select Area. Lalu buat area perekaman, ditandai dengan kotak bergaris merah putus-putus.
  4. Atur Audio dan Pointer
    Kamu juga boleh mengatur supaya aplikasi nggak menangkap suara/audio, jadi video yang dihasilkan nanti sunyi senyap. Non-aktifkan aja audionya, tombol kedua dari kanan yah. Tapi kalo kamu mau suara emas kamu ikut terekam, monggo diaktifkan.

    Kamu juga boleh mengatur supaya aplikasi nggak merekam posisi pointer. Tekan yang ujung kanan yah.
  5. Klik Record
    Sudah siap? Mulai rekam! Ada tombol Record di posisi paling kiri. Klik saja. Maka perekaman akan dimulai dalam hitungan 3 detik.
  6. Klik tombol Pause untuk menghentikan perekaman
    Ada momen yang kamu nggak mau dia ikut terekam? Pause saja. Tekan tombol paling kiri.

    Apa? Popup-nya hilang? Tenang anak muda. Dia tersembunyi di atas.
  7. Klik Stop untuk mengakhiri
    Udah bosen sama si dia? Putusin aja!

    Hihi. Kejam yah...

    Maksudnya
    kalo udah beres ngerekamnya, tekan tombol Stop. Atau bisa juga pakai shortcut Windows key + Shift + Q.
  8. Kembali ke Powerpoint
    Silakan kembali ke Powerpoint. Seharusnya video hasil perekaman layar kamu sudah muncul disana. Kamu boleh ngetes play video-nya.

    Suara kamu kurang sexy? Silakan siapkan suara emasmu, lalu ulangi lagi.
  9. Simpan videonya
    Sebenarnya aplikasi perekam layar di Powerpoint ini cuma untuk memasukkan video perekam layar langsung ke presentasi Powerpoint, alias nggak menghasilkan file. So kalo mau menyimpan hasilnya, untuk kemudian diupload ke Youtube mungkin, klik kanan pada video, lalu pilih Save Media As. Video akan tersimpan dalam bentuk mp4.


Gimana? Sederhana kan? Nggak perlu cari-cari aplikasi berbayar, apalagi sampe cari crack. Cukup berbekal MS Powerpoint aja kamu sudah bisa bikin video tutorial. Yah walaupun Ms Office juga bukan aplikasi gratisan, tapi setidaknya nggak perlu install aplikasi tambahan.

Selanjutnya terserah kamu deh mau diapain itu video. Boleh dishare ke temen, buat presentasi, buat materi kuliah, atau diupload ke Youtube. Saya sendiri baru pake cara ini untuk buat video tutorial supervised classification dengan menggunakan Erdas 2014 yang baru saya unggah ke Youtube 2 hari yang lalu. Mampir atuh ke channel saya, jadi pengunjung pertama. Hehe...

Blog tutorial saya: http://akwijayanto.id/supervised-classification-erdas-2014/

Channel di Youtube: Arif K Wijayanto

Terakhir, semoga bermanfaat!

Senin, 22 Februari 2016

Belajar Bahasa Palembang: Sikok

Bahasa Palembang adalah 'bahasa nasional'-nya Sumatera Selatan (Sumsel). Ya, karena bahasa setiap daerah di Sumsel bisa jadi berbeda. Ada banyak banget rumpun bahasa yang ada di Sumsel. Karena banyaknya itu, maka dibutuhkan satu bahasa pemersatu. Secara nggak tertulis, dan tanpa ada sumpah pemuda Sumsel, dipilihlah bahasa Palembang.


Banyak yang bilang, belajar bahasa Palembang itu mudah, ganti saja setiap vokal akhirannya jadi O. Ya, betul! 'berapa' menjadi 'berapo', 'kita' menjadi 'kito', dan 'lima' menjadi 'limo'.

Tapi nggak gitu juga bro, nggak segampang itu. Misalnya: 'satu' bukan lalu menjadi 'sato', walaupun 'dua' menjadi 'duo' dan 'tiga' menjadi 'tigo', tapi 'empat' bukan lalu menjadi 'empot', lu kire nenek lu empot? 'empat' dalam bahasa Palembang tetaplah 'empat'.

Menarik memang, stereotipe "bahasa Palembang gampang tinggal ganti akhirannya jadi O" itu pertama kali saya dengar saat awal kuliah disini, di Bogor. Baik teman-teman yang orang Sunda maupun Jawa, semua kompak dengan stereotipe yang sama. Lucunya, bahkan saat si orang Jawa dengan nama Yanto, mengucapkan satu kata dalam bahasa Palembang yang berakhiran vokal O, 'berapo' - vokal O yang keluar dari mulutnya itu sama sekali nggak sama dengan vokal O pada namanya. Padahal 'Yanto' dan 'berapo' seharusnya diucapkan dengan vokal O yang sama.

Tapi kali ini saya nggak mau bahas pronounciation-nya, kali ini saya mau bahas satu kata dalam bahasa Indonesia, yaitu 'satu' - dan padanan katanya dalam bahasa Palembang. Kenapa saya tertarik bahas kata ini? Karena ternyata ada hal yang unik, orang Palembang punya 2 macam cara untuk menyatakan kata 'satu', yaitu untuk menyatakan jumlah dan menyatakan urutan.

pempek-palembang

Dalam bahasa Palembang, kata 'satu' adalah 'sikok', pengucapan akhiran '-kok'nya mirip seperti di kata 'berkokok'. Tapi ketika ada orang yang tanya begini:
Cek Yuni: Rengking berapo anak kau? (Eh anak kamu rengking berapa?)
Lalu kamu jawab begini:
Kamu: Rengking sikok la. Hebat kan anak aku? (Rengking satu donk. Hebat kan anak guweh?)

Dijamin bukannya pujian, tapi justru pandangan aneh yang kamu dapat.

Lah emang kenapa rif? Whats wrong?


Karena orang Palembang nggak pernah menggunakan 'sikok' untuk menyatakan urutan. Kami lebih suka menggunakan kata 'satu' untuk menyatakan urutan. So, 'rengking satu' adalah jawaban yang tepat.

Contoh lain: saat ujian, kamu mau mencontek ke temen kamu.
Kamu: Psstt! Bro, jawaban nomor sikok apo? (Pssstt! Bro, nomor satu donk!)

Maka dijamin jawaban yang kamu nantikan tidak akan datang. Misscom bro! Temen ente pasti bingung denger kata 'nomor sikok'. Kalo nyonteknya mau sukses, tanyalah 'jawaban nomor satu apo?'. Itu!

Dalam beberapa kasus, kata 'satu' untuk menyatakan urutan juga sering nggak dipakai. Misalnya untuk menyatakan urutan seperti 'pertama', 'kedua', dst. Untuk kasus ini, biasanya digunakan kata 'pertamo, 'keduo', 'ketigo', 'keempat' (bukan 'keempot'), 'kelimo', dst. Untuk konteks kalimatnya, sama lah dengan di bahasa Indonesia.

Lalu kapan kita pakai kata 'sikok'? Gunakanlah kata 'sikok' hanya untuk menyatakan jumlah. Misalnya:
Kamu: Mang, pempek sikok berapo? (Mang, pempek harga satunya berapaan?)
Mang Juhai: Duo ribu dek. Nak berapo? (Dua ribu aja dek. Mau berapa?)


Atau contoh lain:
Yuk Olah: La berapo anak kau mak ini ari? (Anak kamu udah berapa sekarang?)
Kamu: Baru sikok, yuk. Doake bae pacak nambah lagi (Baru satu mbak. Doain aja bisa nambah lagi)

Gimana? Bisa dimengerti? Jadi nak berapo pempeknyo? Yakin sikok bae?