Monday, April 21, 2014

Monday, April 21, 2014 | by Arif K Wijayanto | Categories: | No comments
Dua puluh satu April, satu hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari yang diperingati sebagai hari kebangkitan wanita Indonesia.

Selamat! Selamat Hari Kartini! Selamat untuk wanita Indonesia! 

Pada hari yang bersejarah ini, aku mau mengajak teman-teman yang kebetulan membaca tulisan ini untuk sedikit berkhayal. Andaikata Kartini seorang blogger. Blogger? Why blogger?

Raden Adjeng Kartini, yang kita kenal merupakan pahlawan Indonesia yang berjuang dengan tulisan-tulisannya. Well, seperti yang tertulis di Intisari edisi April ini, meskipun tulisan-tulisan bersejarah itu ia buat lebih dari satu abad lalu, pesannya masih relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini. Bangsa yang merdeka, namun tetap terbelenggu.

Aku suka baca 1 majalah, walaupun nggak berlangganan, dan belinya juga jarang-jarang. Majalah Intisari, mungkin banyak yang tau majalah ini. Intisari mulai edisi Januari 2011 hingga Desember 2013 menampilkan kembali artikel-artikel yang telah dimuat bertahun-tahun sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk memperingati 50 tahun Intisari. Dan pada edisi April 2011, ditampilkan sebuah artikel yang pernah dimuat pada edisi April 1984. Wah, jauh sebelum kita lahir.

Nah, pada edisi itu, judul artikel yang dimuat adalah, Andaikata Kartini Menjadi Anggota DPR. Kira-kira judul itulah yang menginspirasi tulisan ini. Andaikata Kartini seorang blogger.

Intisari edisi April 1984 memuat salah satu tulisan Kartini yang diberi judul “Berilah Orang Jawa Pendidikan”. Berikut sedikit potongan tulisan Kartini yang pernah dimuat di Intisari edisi lawas itu:


Sebagai ibu, wanita adalah pendidik pertama umat manusia. Sebab di pangkuannya-lah anak mulai belajar merasai, berpikir, dan berbicara. Tangan ibunya-lah yang mula-mula menaruh benih pengertian baik dan buruk di hati anak, yang tidak jarang akan menetap seterusnya pada manusia.
Tapi bagaimana ibu Jawa bisa mendidik anak-anak mereka jika mereka sendiri tidak terdidik? Kekuatan mendidik justru mesti datang dari keluarga.
Berilah orang Jawa bacaan yang ditulis dengan bahasa yang merakyat, artinya bisa dimengerti setiap orang. Jangan khotbah atau pidato. Jangan koran yang memberitakan kebakaran, pencurian, pembunuhan dan penggunjingan yang memburuk-burukkan orang lain dan mengunggul-unggulkan diri.
Sedapat mungkin murid dirangsang cinta mereka kepada kesusastraan. Orang-orang muda itu biarlah memikirkan dan kemudian diberi kesempatan berikutnya menuangkan pikirannya. Jangan ditertawakan jika mereka mencanangkan teori yang aneh-aneh. Tapi bantulah mereka, bimbinglah mereka dengan kasih sayang yang lembut dan tegas. Jika mereka ditertawakan, seterusnya mereka akan tutup mulut diikuti tutup hati. Seperti sudah sering dikatakan, tugas guru rangkap: pengajar dan pendidik. Tanggung jawab kependidikan mereka juga rangkap: di bidang akal dan bidang pekerti.

Nah, sekarang mari kita berkhayal. Andaikan di zaman Kartini berjuang, internet sudah ada. Atau bahkan andaikata Kartini hidup di zaman sekarang, dan ia menulis nota-nota protesnya itu di sebuah blog miliknya. Ah, mungkin blognya Raditya Dika bisa kalah tenar dari blognya Kartini. Dan pastinya, tulisan-tulisan di blognya adalah tulisan-tulisan berbobot yang bukan sekedar cerita-cerita kosong belaka. Tulisan-tulisan yang bakal menggelitik bangsa kita yang sedang tertidur lelap ini. Ah, seandainya…

Untuk teman-teman blogger wanita, siapkah kamu menjadi Kartini di zaman blog?


Tulisan ini aku buat untuk dimuat di bloggeripb.org. Ditulis kembali dengan pengubahan.
Ilustrasi Kartini dari ladyoranz.deviantart.com

Friday, April 18, 2014

Friday, April 18, 2014 | by Arif K Wijayanto | Categories: | 17 comments
Dua hari yang lalu, aku baru bikin cerita pendek tentang Dinda. Cerita yang aku bikin dengan tujuan "mencolek" oknum calon anggota legislatif yang belum punya sikap siap terima kekalahan.


Tapi ternyata di waktu yang hampir bersamaan, nama "Dinda" memang lagi hits. Dinda lagi ngetop, ngetopnya nasional pula. Pasti tau donk?

Iya, Dinda yang katanya kurang punya empati sama ibu hamil.

Coba aja gugling nama "Dinda". Semua media rebutan ngebahas si Dinda. Lah trus Dinda yang 10 tahun yang jago catur yang aku tulis? Kebetulan banget kan?

Nah kali ini aku mau ngomongin Dinda yang lain ini, yang di KRL, yang temennya ibu hamil, yang punya akun Path, bukan yang jago catur.

Dear narablog sekalian, aku setuju sama kalian semua. Sikap Dinda kurang tepat. Dinda kurang berempati. Yah sebenernya kasus kyk gini mah banyak terjadi dimana-mana. Objeknya bukan cuma ibu hamil, ada juga anak kecil, orang tua, penyandang disabilitas, dll. Tapi kok aku kurang setuju dengan cara kita memperlakukan si Dinda ini ya?

Bukan bermaksud kasih pembelaan untuk Dinda. Bukan juga bermaksud membenarkan sikap Dinda. Tapi kok ya aku mikirnya yang kita lakuin itu agak berlebihan gitu loh.

Oke lah kita boleh bilang Dinda salah. Tapi apakah tindakan kita menyebarkan screenshoot percakapannya di medsos, sampai akhirnya semua mata se-Indonesia tau, lalu menyerang dan membully Dinda dengan begitu kasarnya, apakah itu tepat? Bahkan ada yang sampe menjadi parodi dalam bentuk meme.

Well emang ada yang bilang, segala sesuatu yang sudah dilepas ke ranah publik adalah milik publik, termasuk di media sosial. Lah trus emang prinsip itu bisa dipake untuk jadi pembenaran kita membully Dinda dengan menyebarkan screenshoot kata-katanya? Nggak gitu loh.

Yang mengejutkan gini. Awalnya kan Dinda ngepos statusnya itu di Path. Setau aku nih ya, Path itu punya sistem pertemanan yang agak tertutup. Cuma temen-temennya aja yang bisa ngeliat statusnya si Dinda. Lah trus siapa yang membuat screenshoot itu? Cuma "temen-temennya" Dinda aja. Ya, aja. If you know what I mean...

Aku sih mikirnya kita masih belum paham sama yang namanya nettiquette. Itu tuh, etika berinternet. Status Dinda dan screenshootnya bisa dibilang privasi. Nggak sepatutnya disebarluaskan begitu (kecuali status aku yang aku pampang di atas, hehe). Nggak sepatutnya juga kita ngebully Dinda dengan begitu "buasnya" (sorry to say). Tau nggak? Itu sama aja dengan main hakim sendiri. Sering dong liat pencuri yang babak belur dipukulin massa. Ya, yang kita lakuin ke Dinda juga begitu. Bahkan bisa dibilang, kita membunuh karakter Dinda. Ih, kasian yah..

Masih inget donk dengan Vicky Prastyo yang heboh gara-gara bahasa Inggrisnya yang "kurang bagus". Ada juga kasus lain yang melibatkan artis-artis lain. Kok kyknya kita seneng banget ngebully mereka yang salah ya? Kyknya puas banget gitu loh.

So, please. Kita boleh kesel, kita boleh dongkol, kita boleh marah. Aku juga kesel, aku juga dongkol, aku juga marah. Tapi guys, bukan begitu caranya. Berinternet juga ada etikanya. Cukuplah kita ngingetin, nasehatin, kasih tau. Jangan dibully.

Kabar terakhir, yang bersangkutan udah minta maaf loh. Dia ngaku khilaf. Tapi aku yakin dia tertekan. Karakternya nyaris mati, gara-gara kita.

So, masih mau ngebully? jangan lagi yah.. :-)

Wednesday, April 16, 2014

Wednesday, April 16, 2014 | by Arif K Wijayanto | Categories: | 22 comments
Dinda, gadis manis 10 tahun, bintang di sekolahnya, SD Negeri Sukamulya 01. Satu hal yang membuat Dinda dielu-elukan adalah kejeniusannya bermain catur. Untuk ukuran anak seusianya, apalagi itu perempuan, bermain catur tentunya bukanlah kemampuan yang biasa. Ayahnya lah yang mengenalkan bidak-bidak catur padanya. Hingga akhirnya Dinda tumbuh menjadi pemain catur junior yang disegani.

Beberapa kali Dinda sukses menyabet gelar juara catur tingkat junior di sekolahnya. Bahkan, tak jarang ia juga mewakili Kecamatan Sukamulya untuk bertanding di tingkat kabupaten. Sayangnya kesempatan bertarung di level yang lebih tinggi belum juga datang. Tapi Dinda tak patah semangat. Ia terus melatih kemampuannya. Mulai dari teman sebaya, sampai orang dewasa, menjadi lawan tandingnya. Satu keinginannya, mewakili Indonesia di level internasional, kelak.

Dan hari ini, kejuaraan catur junior tingkat Kabupaten Serang digelar. Dinda, ditemani ayahnya, dan dukungan teman-teman dan warga Kecamatan Sukamulya, berangkat ke kota, bertarung dengan jagoan catur cilik lainnya.

Tekadnya: harus lolos ke tingkat provinsi!

Beberapa hari sebelumnya, ia begitu serius mempersiapkan diri. Demi mewujudkan tekadnya, ia rela menghabiskan waktu bermain hanya untuk berlatih catur. Buku catur, papan dan bidak catur, bahkan program komputer, menjadi temannya sehari-hari. Wulan, temannya, beberapa kali kali datang berkunjung, mengajak Dinda bermain bersama Isti, Maya, dan Indri. Mereka teman dekatnya. Tapi semua ajakan Wulan ia tolak. Padahal biasanya, Dinda bisa bermain seharian dengan teman-temannya. Tapi tidak untuk hari-hari itu.

Hari ini, ia siap mempertaruhkan semua usahanya. Demi tekad lolos ke tingkat provinsi. Satu alasan lainnya, yang membuat tekadnya kian membuncah, ini kesempatan terakhirnya berlomba. Tahun depan ia harus lebih fokus ke ujian nasional. Ia harus lulus dengan baik. Tekadnya yang lain.

Dan lomba pun dimulai.

Lomba didominasi anak laki-laki. Dinda adalah satu diantara tiga peserta perempuan yang ikut bertanding. Pada lomba ini, Dinda harus berhadapan dengan pecatur cilik dari kecamatan lain, laki-laki, dan perempuan. Berbekal pengalamannya, Dinda sudah terbiasa dengan suasana ini.

Lomba pun memasuki babak demi babak. Banyak pecatur berguguran. Di tengah lomba, Dinda sesekali menoleh ke ayahnya, meyakinkan ayahnya masih terus setia memberinya dukungan. Ayah Dinda, hanya bisa memberi dukungan dari pinggir arena. Dan setiap kali Dinda meneriakkan "Skak mat!", tanda ia berhasil mengalahkan lawannya, senyum lebar pun terlempar dari bibirnya. Ayah pun bertepuk tangan bangga.

Tibalah pada babak final. Dan Dinda, pecatur cilik dari Kecamatan Sukamulya itu, lagi-lagi berhasil mencuri satu tiket. Seolah sudah menjadi langganan. Tapi tunggu dulu, siapa lawannya?

Tantri, siswi SD pindahan dari Bandung, menjadi lawan Dinda di final. Tantri berhasil mengalahkan Alvin, lawan Dinda di final tahun lalu. Melihat gelagat Dinda yang tampak gugup, ayah mencoba menenangkan.

"Dinda takut yah? Dinda nggak boleh takut. Kan Dinda udah latihan. Pasti bisa"

Dinda hanya tersenyum, berharap kata-kata ayahnya bisa menjadi motivasi lebih untuknya.

Dan inilah! Babak final turnamen catur junior tingkat Kabupaten Serang.

Langkah demi langkah diambil kedua pecatur. Bidak-bidak berpindah posisi. Dinda, Tantri, semuanya tegang. Tangan-tangan mungil itu dengan penuh perhitungan, memindahkan bidak-bidak catur dari petak satu ke petak lainnya. Penonton hanya terdiam, penuh harap.

Ini babak final, Dinda!

Tantri, secara mengejutkan bermain begitu brilian. Langkah-langkahnya berhasil membuat Dinda terdiam sejenak, berpikir keras, sebelum bisa membalas. Tantri terus menekan, Dinda kian tertekan. Hingga tiba pada satu langkah, Dinda salah perhitungan. Ayah menyadarinya, tapi tak bisa berbuat lebih, selain hanya berharap, Tantri tak menyadari kesalahan Dinda.

Tapi...

"Skak mat!"

Tantri mengunci Dinda. Dinda tak bisa bergerak. Ia terdiam. Kalah. Mimpinya pupus. Lagi.

Penonton pun berdiri, bertepuk tangan, memberi selamat pada sang pemenang. Tantri melepaskan senyumannya, setelah satu jam lebih tak secuil senyum pun terlihat dari mukanya. Ia menang.

Dan Dinda, masih terpaku di kursinya. Menatap kosong bidak-bidak catur di hadapannya. Tangannya kaku, tak bergerak. Dan air mata pun menetes. Ia kalah. Lagi.

Ayah datang menghampiri Dinda. Mencoba menghibur putrinya. Ia ulas punggung Dinda yang masih saja terduduk. Ia usap airmata Dinda. Tapi tangis Dinda justru menjadi.

"Ayah... Dinda kalah lagi", ujar Dinda.

"Udah. Nggak apa-apa. Ayah tetep bangga kok sama Dinda. Buat ayah, Dinda tetep juara deh. Senyum donk"

"Ayaaahh.."

Ayah dan putrinya itu pun berpelukan. Dinda tak peduli dengan keramaian yang mengelu-elukan nama sang pemenang. Ia terus terisak.

"Tuh. Nama kamu dipanggil. Sana. Ambil medalinya. Bunda kamu pasti bangga", Ayah tersenyum.

Dinda membalas senyum ayahnya. Seolah kata "bunda" yang diucapkan ayahnya menjadi penyembuh hatinya yang baru saja terluka.

"Iya Yah. Dinda udah cukup main caturnya. Sekarang Dinda mau fokus belajar. Biar lulus. Hehe"

"Gitu donk. Anak ayah emang jagoan", kata ayah setelah memberi kecupan manis pada putrinya.

Dinda pun pergi menuju podium juara. Disana sudah berdiri Tantri dan Alvin yang tersenyum padanya seolah menyambut "sang juara". Dinda menyalami kedua lawannya itu, memberi ucapan selamat. Tantri dan Alvin pun membalas dengan senyuman. Tak lama, medali juara telah menggantung di leher mereka. Untuk kesekian kalinya, medali berwarna perak itu menggantung di leher Dinda.

"Ini untuk ayah dan bunda", kata Dinda dalam hati.


Tulisan ini ditujukan untuk Bapak dan Ibu calon anggota dewan. Yang sepertinya belum memiliki jiwa yang siap menerima kemenangan dan menghadapi kekalahan. Semoga mengena.

p.s. Maaf yah, aku kurang bisa bernarasi :-P

Gambar ilustrasi dari download-gambar.com dan ruangbacaanak.blogspot.com

Monday, April 14, 2014

Monday, April 14, 2014 | by Arif K Wijayanto | Categories: | 24 comments
Aku bukan orang yang musik banget. Nyanyi nggak bisa, maen musik apalagi. Cukup lah jadi pendengar. Toh pendengar selalu jadi pemasukan utama para pemusik *colek idung*

Winamp atau Aimp3 selalu jadi player favorit yang siap memutar nggak kurang dari 3000an file musik berformat mp3 yang ada di laptop kesayangan. Lama-lama bosen juga, dengerin lagu yang itu-itu aja. Nah akhir-akhir ini aku jadi suka dengerin musik via streaming. Modalnya: wifi gratisan di kampus + ademnya AC lab. Betah deh sampe malem ngelab :-D


Ada 2 website streaming yang sering aku kunjungin: 1. Ohdio (http://ohdio.fm); 2. Grooveshark (http://grooveshark.com). Apa bedanya? Yuk kita kemon!

1. Ohdio (http://ohdio.fm)
Resminya, ohdio.fm ini sebenernya layanan radio online. Dari domainnya aja udah ketauan lah ya. Nah ohdio ini ternyata dikembangin orang Indonesia loh, anak bangsa. Namanya Yoga Nandiwardhana, yang juga jadi CEO-nya. Tagline ohdio: Dengerin Musik itu Gampang
Aku biasanya dengerin musik di ohdio kalo lagi pengen dengerin lagu lokal. Yah emang karena ohdio cuma nyediain lagu-lagu lokal dari berbagai genre.

Apa aja plus minus dari ohdio? Ini dia!

Plus! 
1. Buat yang suka lagu lokal, koleksinya lumayan kumplit!
2. Lagu-lagunya udah dikategoriin berdasarkan beat lagu. Ada Semangat, Suntuk, Sibuk.
Dan ketegori-kategori itu dipecah lagi jadi Daftar Putar Pilihan. Yang unik, nama-namanya nggak biasa. Aku paling suka dengerin Buat di Kantor sama Temen Ngopi 
3. Ada radio artis
4.  Ada liriknya broh!

Minus... 
1. Cuma nyediain lagu-lagu lokal. 
Kalo pengen dengerin lagu luar, ohdio nggak recommended nih.
2. Nggak tau kenapa, sering disconnect. 
Mungkin emang gara-gara jaringan aku aja kali ya

3. Nggak bisa bikin playlist sendiri

4. Kadang terselip iklan di antara playlistnya 
Its ok aja sih. Lagian iklannya nggak lama kok :-)

2. Grooveshark (http://grooveshark.com)
Kalo Grooveshark, ini garapannya luar negeri, bukan Indonesia punya. Dan diakses oleh banyak orang di seluruh dunia. Jadi wajar aja kalo koleksinya jauh lebih komplit. Aku biasanya dengerin musik di Grooveshark kalo lagi bosen denger lagu lokal. Dan sebenernya sekarang jadi lebih sering buka Grooveshark ketimbang Ohdio :-D

Apa aja plus minus si sirip hiu ini?


Plus!
1. Lagunya lebih banyak broh!
2. Ada Live Broadcast
Sebenernya Grooveshark ini kontennya berbasis komunitas atau social media. Jadi kebanyakan lagu-lagunya ya dari pengguna/user. Kita bisa upload koleksi lagu-lagu kita sendiri, trus broadcast deh.

Ada juga sistem follow-nya. Jadi beneran kyk komunitas gitu.

3. Bisa bikin playlist sendiri.
Enaknya Grooveshark, playlistnya bisa kita bikin sendiri. Dan hebatnya, Grooveshark kasih rekomendasi berdasarkan kesukaan kita. Ada juga berdasarkan genre atau artist.
3. Ada lagu Indonesia juga
Awalnya aku kira nggak bakalan ada lagu Indonesia disini. Eh ternyata ada lumayan banyak loh. Mungkin karena sistemnya yang user based content, makanya kontennya jadi lebih beragam.

4. Nggak ada selipan iklan
Beneran. Aku belum nemu ada iklan di Grooveshark. Di playlist nggak ada, di laman website-nya juga nggak ada. Walaupun ada page Advertising.

Minus... 
1. Lagu Indonesia sedikit
Yah, walaupun ada, tapi jumlahnya dikit banget broh. Dan itupun kyknya kurang tertata rapi. Aku juga curiga jangan-jangan sebagian lagu-lagu yang diupload kesana lagu bajakan semua. Mesakke...
2. Kagak ada lirik
Sebenernya ini nggak penting-penting banget sih.
3. Nggak ada kategori lagu berdasarkan beat


Kesimpulannya...
Dari pengalaman aku, aku nyimpulin Grooveshark lebih oke dan recommended. Alasannya, mungkin gara-gara aku lebih suka lagu luar kali yah? Hehe... Lagian juga dengan kelebihan yang udah aku urai di atas, wajar sih kalo aku prefer Grooveshark.
Tapi kadang kalo lagi pengen denger lagu-lagu lokal, aku prefer Ohdio. Tergantung selera sih :-D

Gimana? Komen deh, siapa tau ada rekomendasi lain 

Friday, April 11, 2014

Friday, April 11, 2014 | by Arif K Wijayanto | Categories: | 28 comments
Hari Jumat nih.

Kamu yang muslim, apalagi cowok, pastinya tau hari ini kudu ngapain. Yap, ke bioskop shalat Jumat!

Dan pastinya, nggak asing sama yang namanya kotak amal, atau kotak infak. Kerabat dekat kotak suara dan kotak pos ini bakal mulai beredar menjelang khotib menyampaikan khutbahnya. FYI, buat yang nggak tau nih, itu kotak bakal muter, digilir sama bapak-bapak dan om-om seisi masjid. Udah deh, mulai kedengeran tuh suara klutuk klutuk, ada koin-koin yang masuk.

Yang bikin aku kesel: itu kotak amal biasanya dibikin dari papan kayu ekstra tebal, ada juga yang dari plat besi, ditambah lagi dengan gembok super gude. Berrraatt broh! Ngeliatnya aja udah berat, apalagi ngangkatnya. Mending kalo itu berat gara-gara isinya banyak. Lah itu beratnya cuma gara-gara kotaknya doank broh. Kira-kira begini nih penampakannya:


Bukan apa-apa sih. Aku cuma khawatir, duit yang udah sengaja disiapin, udah semangat buat sedekah nih, eh pas liat kotak amalnya, ngangkat, berat banget, eh duit yang tadi disiapin mendadak jadi ikut-ikutan berat. Batal deh nyumbangnya.

Aku anak teknik, anak IT juga, sedikit banyak belajar gimana desain yang baik. Yang ergonomis, user friendly, usability-nya tinggi. Jangan sampe produk yang dibuat malah nggak nyaman dipakenya. Kenapa kotak amal nggak dirancang kyk gitu? Kenapa gemboknya kudu sebegitu gudenya?

Nah! Bagusnya, ada juga yang udah ngedesain kotak amal, yang aku kira oke banget. Ergonomis dapet, estetika juga oke. Gimana bentuknya? Nih penampakannya:

dari setenangpagihari.blogspot.com
Gimana? kalo kotak amalnya begitu, dijamin anggaran masjid bakal makin tersedot, buat beli solar :-D

Yok ah. Yang marboth, yang suka ngincer kotak amal, komen donk..
older posts home