Selasa, 15 November 2011

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat

Aku mau jadi dokter! - bocah kecil di atas kursi roda
Suatu hari di bulan Juli 1996, lima belas tahun lalu, pertama kalinya aku dengan bangga memakai seragam putih merah khas anak SD, lengkap dengan dasi karetnya. Itulah hari pertama aku melihat diriku berbalut seragam kebanggaan siswa sekolah dasar. Bangganya aku. Kulihat wajah ibuku, terpancar rona kebanggaan, anaknya tlah siap bersekolah. Bukan cuma aku, ribuan bahkan jutaan anak lainnya juga turut berbahagia hari itu. Walau tetap saja ada yang meronta-ronta seolah tak ingin terpisah dari orangtuanya, ibunya. Berpegang erat, bergelantungan di tangan ibunya. Ah, anak kecil.. Tapi semua tak menghilangkan rasa gembiraku saat itu. Aku siap ke sekolah!

Tapi itu bukanlah hari yang menggembirakan bagi seorang temanku. Bocah laki-laki, bertubuh mungil. Dengan sepasang matanya yang bulat kecil, menatap kosong ke gerombolan bocah lainnya. Tersirat dari pandangan kosongnya, aku juga mau sekolah.

Samar-samar terdengar obrolan para ibu. Ah, rupanya ia tak diizinkan bersekolah. Ia menyandang disabilitas, tungkai kakinya tak sempurna.

Seorang wanita yang aku pikir guru mendekat pada si bocah.
"kamu mau sekolah ya? emang mau jadi apa?" tanyanya
"aku mau jadi dokter!"

Semua dari kita tau, pendidikan adalah untuk semuanya. Tak peduli usia, suku, ras, kaya, miskin, agama, semua punya hak menuntut ilmu. Tapi lihatlah para penyandang disabilitas. Pandangan masyarakat pada para penyandang disabilitas selama ini seakan mempersempit dunia mereka. Kesan merepotkan, sulit berkembang, dan berbagai pandangan lain terhadap para penyandang disabilitas berkembang dalam masyarakat. Walau dalam dunia pendidikan, pemerintah sudah banyak membangun sekolah-sekolah luar biasa khusus untuk para penyandang disabilitas. Tapi tetap saja, sekolah luar biasa bukanlah untuk mereka yang ada di pinggiran dan pelosok negeri ini. 

Dulu kami tinggal di sebuah desa transmigrasi terpencil di Sumatera Selatan, 120 km dari ibukota propinsi. Cuma ada 2 SD dengan fasilitas seadanya.

Isu disabilitas dalam pandangan masyarakat - khususnya dalam dunia pendidikan - seakan semakin mengikis semangat para penyandang disabilitas untuk turut berkarya. Padahal tidak sedikit dari para penyandang disabilitas yang mempunyai potensi yang mungkin melebihi mereka-mereka dari golongan non-disabilitas. Faktor-faktor tekanan masyarakat sekitar, ditambah dengan kemiskinan, membuat mereka yang dinding semangatnya kurang kokoh semakin terpojok. Jadilah semakin banyak saudara-saudara kita para penyandang disabilitas menadah recehan di atas jembatan penyeberangan, demi sesuap nasi. 
Omong-omong jembatan penyeberangan, teringat satu fenomena sosial yang miris. Tak sedikit dari kita yang dengan tega memanfaatkan kelemahan para penyandang disabilitas untuk kepentingan materi. Alih-alih memberi bantuan, sebagian dari kita justru dengan teganya mengharap recehan dengan (maaf) memajang saudaranya yang menyandang disabilitas. Hei! Emang segitu teganya kalian sama mereka? Miris...

Lain lagi dari mereka yang "kreatif banget". Dengan dandanan meyakinkan, mereka memoles diri mereka seolah mereka penyandang disabilitas. Mereka rela duduk di bawah lampu merah, menanti recehan-recehan jatuh di mangkuknya. Ah, ini sih namanya kurang bersyukur.

Pandangan negatif untuk para penyandang disabilitas juga menghapus kesempatan para penyandang disabilitas untuk dapat bekerja sebagai karyawan. Padahal sebenarnya, tidak semua pekerjaan tidak bisa dilakukan di penyandang disabilitas. Walau mungkin dalam keterbatasan.

Well. Harus kita akui memang, pandangan masyarakat selama ini untuk para penyandang disabilitas memang lebih banyak nilai negatifnya. Negatif dalam arti sulit berkembang, tidak punya potensi, dan cenderung menyulitkan. Tapi sebelum jauh kita menelan anggapan itu, marilah kita tengok saudara-saudara kita yang juga penyandang disabilitas. Tidak sedikit dari mereka yang telah menoreh tinta keberhasilan.

Lihatlah Pak Sidik, seorang pengusaha kerupuk di Bogor. Terlahir tanpa memiliki sepasang kaki, Pak Sidik kini mampu membangun usaha produksi kerupuk singkong yang mengolah sedikitnya 50 hingga 100 kilogram singkong setiap bulannya. Merek dagang juga ia dapatkan. Dan dari hasil usahanya itu, Pak Sidik mengantungi keuntungan berkisar 1 sampai 2 juta rupiah perbulan. Nggak seberapa untuk ukuran pengusaha biasa. Tapi untuk ukuran penyandang disabilitas, ini patut diapresiasi. Dengan keadaan yang terbatas, Pak Sidik telah membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga mampu menjadi entrepreneur.

Di bidang olahraga, lihatlah para atlet di Paralympic Games - olimpiadenya para penyandang disabilitas. Para penyandang disabilitas bertarung dalam arena olahraga layaknya mereka dari golongan non-disabilitas. Lihatlah wajah mereka. Semangat bertanding mereka tak kalah membara.

Lalu, masih layakkah kita berpandangan miring pada para penyandang disabilitas?

Sebuah gebrakan muncul dengan lahirnya sebuah komunitas yang bernama Komunitas Kartunet Indonesia yang merupakan organisasi nirlaba yang didirikan oleh 4 orang tunanetra sejak tahun 2006. Nama kartunet sendiri merupakan singkatan dari "karya tunanetra". Komunitas ini kian membesar dan lalu melahirkan sebuah situs web kartunet.com - sebagai media sosialisasi isu-isu disabilitas di Indonesia.

Kartunet didirikan pada 19 Januari 2006 oleh 4 orang tunanetra; Irawan Mulyanto, Aris Yohanes Elean, Dimas Prasetyo Muharam, dan M Ikhwan Tariqo - berawal dari ide bahwa aktivitas ngeblog adalah aktivitas yang sudah menjelma menjadi hobi di kalangan anak muda, khususnya para penyandang tunanetra. Berangkat darisanalah kartunet.com berjuang menyampaikan isu-isu terkait disabilitas untuk para penyandang disabilitas. Dilihat dari tagline-nya, situs ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif - masyarakat yang bertanggungjawab terhadap dirinya, keluarganya, kelompoknya, dan masyarakat sekelilingnya.

Sebuah inisiatif yang patut diapresiasi!

Satu yang patut disayangkan, tidak ada peran pihak dari non-disabilitas dalam pendirian komunitas ini. Seharusnya, dengan adanya satu yang non-disabilitas, akan menambah kesan kedekatan antara si penyandang disabilitas dengan orang lain yang dikatakan normal secara fisik.
Tapi apapun dibalik itu, komunitas ini bersama situs webnya - kartunet.com - merupakan suatu terobosan brilian sebagai karya penyandang disabilitas untuk memperkuat eksistensi para penyandang disabilitas di kalangan masyarakat. Pandangan masyarakat selama ini yang selalu meremehkan, selalu menjadikan para penyandang disabilitas sebagai bahan cemoohan diharapkan akan semakin menipis. Hingga pada akhirnya timbullah kesadaran pada diri para penyandang disabilitas, bahwa sesungguhnya mereka juga manusia biasa yang mempunyai hak yang sama dengan manusia lainnya. Manusia biasa yang punya semangat sama dengan manusia lainnya. Bahkan bukan hanya kesadaran pada diri para penyandang, tetapi juga mereka-mereka yang selama ini berpandangan miring, diharapkan dapat merubah cara pandangnya. Tentu perubahan cara pandang ini juga harus diikuti perkembangan semangat berjuang dari para penyandang disabilitas. 

Harapan lain dari adanya situs ini adalah tumbuhnya kelompok-kelompok dari golongan non-disabilitas yang peduli kaum disabilitas. Tidak bisa dipungkiri, semangat persatuan masyarakat kita, khususnya golongan muda, sangatlah kuat. Terlebih untuk isu-isu sosial. 

Hingga akhirnya terbentuk suatu masyarakat yang inklusif, sesuai dengan tujuan dari terbentuknya komunitas kartunet dengan situs webnya - kartunet.com.
 
Terbayang suatu saat nanti tidak ada lagi pandangan negatif dari masyarakat terhadap para penyandang disabilitas. Tidak ada lagi mereka-mereka yang menadah recehan di jembatan penyeberangan. Tidak ada lagi yang tega memanfaatkan kelemahan para penyandang disabilitas. Timbul juga kesadaran bahwa para penyandang disabilitas juga layak mendapatkan pekerjaan. Dan akhirnya senyum si penyandang disabilitas-pun dapat selebar mereka.

Suatu hari di September 2011. Aku lihat seorang lelaki turun dari sebuah mobil, membuka pintu tengah. Dari sana ia keluarkan kursi roda. Dari pintu depan keluarlah lelaki lain, dari wajahnya sudah cukup berumur, turun tepat di atas kursi roda yang disiapkan. Ia tak punya tungkai kaki. Aku teringat temanku dulu. Mereka beranjak pergi, menuju sebuah ruangan. Kudengar bisikan orang-orang yang lewat, ia mahasiswa baru. Ia mau kuliah...


sumber gambar: 
http://bmwz8us.deviantart.com/art/Aku-Ingin-Sekolah-96277174
http://sourceflame.blogspot.com/2011/07/olimpiade-orang-cacat.html

Ada yang lebih seru loh!

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan cerita di atas? Silakan berlangganan gratis via email

12 Comments

Try Armeidi
Sel Nov 15, 08:20:00 PM delete

jgn mrubah sisi pndang terhadap mreka, krn memang dari sononya tak blh brubah,,,,mreka adalah sama dalam segi potensi, dmn hal trukur sesuai dg hasil yg mngarah pd keunggulan, bkn titik mati prosedural. ktika ada pndangan negatif sseorang trhdap mreka, mk sbnrnya knegatifan itu kmbali kpd si pmandang.,,,tiada yg smpurna tnp ktidak smpurnaan. Hal yg smpurna trsusun atas ktidaksmpurnaan.

Reply
avatar
Rizki Maulaya
Sel Nov 15, 08:27:00 PM delete

kekurangan atau kelemahan seseorang bukan terletak pada keterbatasannya akan sesuatu, melainkan ketika ia menyesali dan berdsedih terlalu lama atas keterbatasannya itu.
Akan menjadi sebuah keistimewaan jika ia menyadari betapa keterbatasan tsb harus disyukuri bahkan dapat ia lihat dan kembangkan sisi positifnya sebagai kelebihan (berlaku secara universal, tidak hanya pada orang yang menyandang cacat).
Kita, sebagai salah satu pemeran dalam kehidupan mereka, sudah seyogyanya merangkul dan meyakinkan bahwa hidup ini indah jika kita saling berbagi dan mensyukuri atas apa yang Allah anugerahkan dalam hidup dan kehidupan kita.

Reply
avatar
Rima Khairani
Rab Nov 16, 08:47:00 AM delete

tiap orang memiliki kelebihan n kekurangan msing2.. tinggal bagaimana qt bisa dengan bijak menyikapi hal itu.. kelebihan tidak sepenuhnya dapat dijadikan kelebihan, jika orang salah dlm mengartikan nya, kelebihan justru akan membuat qt jatuh.. begitu pula sebaliknya, kekurangan dapat kita jadikan sebagai kekuatan untuk bisa survive  n bangkit dr keterpurukan.. semangattt kawaan! syukurilah smw yg kita miliki! hidup hanya sekali, jd manfaatkanlah dgn sebaik-baiknya! :) 

Reply
avatar
Rab Nov 16, 02:02:00 PM delete

memang masih ada beberapa dari kita yang kadang melihat seseorang yang disable itu 'berbeda', sengaja untuk didiskriminasi baik dalam perolehan hak untuk sekolah dan lain sebagainya. tapi sekarang mari kita lihat, semakin banyak saja orang-orang yang disable yang menunjukkan kelebihannya masing-masing. entah dalam bidang seni, olah raga, dan lain sebagainya. satu yang aku yakini, tidak ada manusia yang sempurna. jika seseorang terlahir dalam kondisi disable, disisi lain dia pasti punya kelebihan dibandingkan ornag lain yang terlahir secara normal.

Reply
avatar
Kam Nov 17, 11:56:00 PM delete

Mas Arif, ada PR dari saya, lihat sini ya. :)

Reply
avatar
Jum Nov 18, 11:01:00 AM delete

komen di atas sudah sangat mewakili sampai saya ga tahu harus komen apa lagi, eh, kunjungan pertama nih, salam kenal.:)

Reply
avatar
Djack Ria
Rab Nov 23, 02:41:00 AM delete

sukses gan... salam kenal

Reply
avatar
Djack Ria
Rab Nov 23, 02:42:00 AM delete

sukses artikelnya gan,... salam kenal

Reply
avatar
Rab Nov 23, 12:18:00 PM delete

Nice artikel...
Hidup penca...Tuhan Maha Adil setiap kekurangan pasti ada kelebihan
Please visit back gan... :)

Reply
avatar
Kam Nov 24, 08:38:00 AM delete

Hai BangKoor, salam kenal yah :)
Menurut saya, pandangan masyarakat terhadap disable people berkorelasi terhadap budaya (nilai dan value yang disepakati suatu komunitas). 
Di Indonesia, orang2nya terlalu perhatian dan terlalu mengasihani dan hanya sebatas itu, tetapi juga tidak berbuat sesuatu untuk memperjuangkan persamaan hak utk disable people. Dari SD saya diajari untuk menolong menyeberangkan jalan bagi orang buta, menolong menyeberangkan nenek2 dan kakek2, dan orang cacat. Namun, selama 28 tahun hidup saya di Indonesia, saya hampir tidak pernah duduk satu bus ataupun angkot dengan orang lumpuh berkursi roda, orang buta dg tongkatnya, orang tuna daksa, dimana mereka? mereka adanya di luar bus dan angkot, maaf, mereka duduk mengemis dan mengamen. Pun, saya tidak menjumpai mereka di ruang kelas pada waktu sekolah dan kuliah, dimana mereka? sedikit sekali yang memiliki akses yang sama terhadap dunia pendidikan. Di restoran dan warteg juga hampir tidak pernah saya jumpai, dimana mereka? tidak pernah makan kah? atau masak terus di rumah, atau makan di hotel berbintang tidak seperti saya?Sebaliknya, sekedar sharing, selama saya di Canberra - Australia dan beberapa kota lainnya di Sydney, Perth dan Wolonggong, setiap hari saya beraktivitas bersama disable people, kami naik bus yang sama, naik lift dan akses tangga yang sama, makan di kantin yang sama, berolahraga di gym yang sama. Mereka dekat ada disekitar saya setiap hari, malah berhamburan beraktivitas biasa seperti mereka merasa tidak punya keterbatasan. Pandangan masyarakat disini terhadap disable people tidak pernah mengasihani, mereka malah tidak menganggap kecacatan itu perlu perlakuan khusus dg menuntun dan menolongnya. Orang tua 90 tahun masih jalan2 ke mal sendirian dan belanja ke pasar memakai tongkat dan seolah tampak tidak ada yg peduli jika dia tertimpa kecelakaan sewaktu naik turun bus dan menyeberang jalan. Namun, dibalik keacuhan masyarakat, mereka justru sangat peduli memperjuangkan persamaan hak bagi kaum disable people, setiap fasilitas harus bisa dimanfaatkan dua fungsi untuk orang biasa dan disable people. Saya merasa ini adalah Budaya saling menghormati dan tidak saling mengganggu, contohnya: dengan menuntun disable people, mereka merasa tidak menghormati dan malah menghina, dan sebaliknya orang disable people pun sebisa mungkin mandiri karena mereka tidak mau mengganggu kehidupan masyarakat lainnya. Pandangan masyarakat: disable people pun orang normal yang berhak menjalani aktivitas dengan normal pula, mereka justru juga harus berkontribusi pada Negara karena Negara sudah peduli terhadap mereka. Kita sama-sama berhak dan sama-sama berkewajiban :)

Reply
avatar
Jum Nov 25, 07:53:00 PM delete

I got the point! Sesuatu yang nggak aku pikirkan sebelumnya. Selama ini kita sudah didikte untuk terlalu peduli dengan kaum disable. Dari kecil udah diajarin, kalo ada orang (maaf) cacat yang mau nyeberang jalan, ya mbok ditolongin. Karena over peduli, sampe-sampe kita terlalu menganggap lemah mereka. Dari sana, kaum disable seakan makin tenggelam, karena sikap telalu peduli dari kaum normal

Reply
avatar
Firman Way
Sen Nov 28, 03:32:00 PM delete

mantep banget deh gan artikelnya,.. :)

Reply
avatar

Dear teman. Silakan berkomentar. Tapi khusus untuk post yang telah terbit > 7 hari, mohon maaf komentar kamu nggak langsung muncul, karena harus dimoderasi. Trims