Senin, 22 Februari 2016

Belajar Bahasa Palembang: Sikok

Bahasa Palembang adalah 'bahasa nasional'-nya Sumatera Selatan (Sumsel). Ya, karena bahasa setiap daerah di Sumsel bisa jadi berbeda. Ada banyak banget rumpun bahasa yang ada di Sumsel. Karena banyaknya itu, maka dibutuhkan satu bahasa pemersatu. Secara nggak tertulis, dan tanpa ada sumpah pemuda Sumsel, dipilihlah bahasa Palembang.


Banyak yang bilang, belajar bahasa Palembang itu mudah, ganti saja setiap vokal akhirannya jadi O. Ya, betul! 'berapa' menjadi 'berapo', 'kita' menjadi 'kito', dan 'lima' menjadi 'limo'.

Tapi nggak gitu juga bro, nggak segampang itu. Misalnya: 'satu' bukan lalu menjadi 'sato', walaupun 'dua' menjadi 'duo' dan 'tiga' menjadi 'tigo', tapi 'empat' bukan lalu menjadi 'empot', lu kire nenek lu empot? 'empat' dalam bahasa Palembang tetaplah 'empat'.

Menarik memang, stereotipe "bahasa Palembang gampang tinggal ganti akhirannya jadi O" itu pertama kali saya dengar saat awal kuliah disini, di Bogor. Baik teman-teman yang orang Sunda maupun Jawa, semua kompak dengan stereotipe yang sama. Lucunya, bahkan saat si orang Jawa dengan nama Yanto, mengucapkan satu kata dalam bahasa Palembang yang berakhiran vokal O, 'berapo' - vokal O yang keluar dari mulutnya itu sama sekali nggak sama dengan vokal O pada namanya. Padahal 'Yanto' dan 'berapo' seharusnya diucapkan dengan vokal O yang sama.

Tapi kali ini saya nggak mau bahas pronounciation-nya, kali ini saya mau bahas satu kata dalam bahasa Indonesia, yaitu 'satu' - dan padanan katanya dalam bahasa Palembang. Kenapa saya tertarik bahas kata ini? Karena ternyata ada hal yang unik, orang Palembang punya 2 macam cara untuk menyatakan kata 'satu', yaitu untuk menyatakan jumlah dan menyatakan urutan.

pempek-palembang

Dalam bahasa Palembang, kata 'satu' adalah 'sikok', pengucapan akhiran '-kok'nya mirip seperti di kata 'berkokok'. Tapi ketika ada orang yang tanya begini:
Cek Yuni: Rengking berapo anak kau? (Eh anak kamu rengking berapa?)
Lalu kamu jawab begini:
Kamu: Rengking sikok la. Hebat kan anak aku? (Rengking satu donk. Hebat kan anak guweh?)

Dijamin bukannya pujian, tapi justru pandangan aneh yang kamu dapat.

Lah emang kenapa rif? Whats wrong?


Karena orang Palembang nggak pernah menggunakan 'sikok' untuk menyatakan urutan. Kami lebih suka menggunakan kata 'satu' untuk menyatakan urutan. So, 'rengking satu' adalah jawaban yang tepat.

Contoh lain: saat ujian, kamu mau mencontek ke temen kamu.
Kamu: Psstt! Bro, jawaban nomor sikok apo? (Pssstt! Bro, nomor satu donk!)

Maka dijamin jawaban yang kamu nantikan tidak akan datang. Misscom bro! Temen ente pasti bingung denger kata 'nomor sikok'. Kalo nyonteknya mau sukses, tanyalah 'jawaban nomor satu apo?'. Itu!

Dalam beberapa kasus, kata 'satu' untuk menyatakan urutan juga sering nggak dipakai. Misalnya untuk menyatakan urutan seperti 'pertama', 'kedua', dst. Untuk kasus ini, biasanya digunakan kata 'pertamo, 'keduo', 'ketigo', 'keempat' (bukan 'keempot'), 'kelimo', dst. Untuk konteks kalimatnya, sama lah dengan di bahasa Indonesia.

Lalu kapan kita pakai kata 'sikok'? Gunakanlah kata 'sikok' hanya untuk menyatakan jumlah. Misalnya:
Kamu: Mang, pempek sikok berapo? (Mang, pempek harga satunya berapaan?)
Mang Juhai: Duo ribu dek. Nak berapo? (Dua ribu aja dek. Mau berapa?)


Atau contoh lain:
Yuk Olah: La berapo anak kau mak ini ari? (Anak kamu udah berapa sekarang?)
Kamu: Baru sikok, yuk. Doake bae pacak nambah lagi (Baru satu mbak. Doain aja bisa nambah lagi)

Gimana? Bisa dimengerti? Jadi nak berapo pempeknyo? Yakin sikok bae?

Ada yang lebih seru loh!

Belajar Bahasa Palembang: Sikok
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan cerita di atas? Silakan berlangganan gratis via email

11 Comments

Sen Feb 22, 09:15:00 AM delete

Hampir mirip ya dengan bahasa minang.
Tapi kalo bahasa minang empat nya jadi ampek

Reply
avatar
Sen Feb 22, 09:20:00 AM delete

Betul bang. Ada beberapa kata yang mirip. Yah mungkin karena masih serumpun kali yah

Reply
avatar
Jum Feb 26, 05:16:00 PM delete

klo dipalembang ada kata "Awak" ga rif ? dulu waktu ku di medan, pake kata "awak" buat bilang "saya"..

Reply
avatar
Sen Feb 29, 09:22:00 AM delete

Ada mas. Tapi penggunaan dan artinya beda. Misalnya:
"Awak kecik tapi melawan"
artinya: kecil-kecil tapi berani

Reply
avatar
Rab Mar 16, 02:11:00 PM delete

Dulu, saya kira bahasa di Sumatera itu sama aja satu pulau (kecuali Aceh), wkwkwkwkwk... ternnyata Palembang aja juga udah beda sama Medan ya, hehehehe

Reply
avatar
Min Mar 20, 10:25:00 AM delete

Kok mirip sama bahasa Padang yakk...

Reply
avatar
Kam Mar 31, 12:44:00 PM delete

Pacak nian mamang ikak :D

Reply
avatar
Sab Mei 07, 11:44:00 PM delete

Kamu: Psstt! Bro, jawaban nomor sikok apo? (Pssstt! Bro, nomor satu donk!)

Asli ngakak ane sebagai orang palembang baca itu =))

Reply
avatar
Min Mei 22, 02:38:00 PM delete

Ngiler banget lihat gambar pempeknyo...singkok yo ! mampir juga ya ke arinastory.com

Reply
avatar
Min Sep 10, 10:08:00 PM delete

Tolong bantu terjemahkan dong. Artinya ini apa "lanjak la gek buruk tagantung"

Reply
avatar
Sen Sep 11, 08:31:00 AM delete

Artinya kira-kira: "Buruan! Nanti jadi perjaka tua"

Reply
avatar

Dear teman. Silakan berkomentar. Tapi khusus untuk post yang telah terbit > 7 hari, mohon maaf komentar kamu nggak langsung muncul, karena harus dimoderasi. Trims