Tampilkan postingan dengan label LagiPengenNgomong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LagiPengenNgomong. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2016

Musi Banyuasin dan Banyuasin, Apa Bedanya?

Musi Banyuasin dan Banyuasin adalah nama 2 kabupaten di Sumatera Selatan. Dua kabupaten yang bersebelahan ini dulunya adalah 1 kesatuan kabupaten. Sejarahnya, wilayah sebelah timur dari Kabupaten Musi Banyuasin, memisahkan diri menjadi kabupaten baru dengan nama Kabupaten Banyuasin sejak tahun 2002. Kabupaten Musi Banyuasin setelah pemekaran menguasai wilayah barat dan ber-ibukota di Sekayu, sedangkan Kabupaten Banyuasin menguasai wilayah timur yang berbatasan langsung dengan Selat Bangka, dan ber-ibukota di Pangkalan Balai.

Logo Kabupaten Musi Banyuasin

Logo Kabupaten Banyuasin



Jadi jelas donk, terjawab sudah pertanyaannya. Musi Banyuasin dan Banyuasin jelas sangat berbeda. Cuma kebetulan aja namanya mirip-mirip.

Saya sendiri adalah warga Kabupaten Musi Banyuasin (atau biasa disingkat Muba). Tepatnya di Sungai Lilin.



Trus knp km post tentang ini rif?


Karena saya risau. Nggak sedikit orang yang nyangka, Musi Banyuasin adalah Banyuasin, dan sebaliknya.

Emang siapa yang suka salah?


Banyak.

Pertama, temen-temen saya. Mereka tau saya asalnya dari Musi Banyuasin. Tapi sering banget mereka tanya, "Nggak pulang ke Banyuasin rif?"

Teman, plis deh. Musi Banyuasin dan Banyuasin adalah dua nama yang berbeda. Jangan disamain deh.

Ini kekonyolan kedua setelah banyak orang yang menyangka saya orang Lampung.


Kedua, para wartawan. Masih anget nih beritanya: Bupati Banyuasin tertangkap tangan KPK.


Nah dari berita itu, lalu banyak orang yang salah kira, yang ditangkap adalah Bupati Musi Banyuasin. Oh man, please. Itu bukan bupati kami. Itu bupati kabupaten sebelah. Kami beda.

Sampai terbitlah berita ini:


Teman, kasihan pak bupati. Dia jadi korban salah sangka. Oke lah kemarin bupati kami memang sempat kena tangkap KPK juga. Tapi bukan berarti lantas kalian boleh menghubung-hubungkan kasus yang baru ini dengan kabupaten kami lagi.

Dari salah paham ini, bukan kami aja yang sering dirugikan. Saudara kandung kami itu (Kab Banyuasin) juga sering dirugikan. Penyebabnya? Ya karena banyak orang yang lebih suka menyebut "banyuasin" daripada "musi banyuasin". Padahal itu beda.

Contohnya dulu saat kasus Bupati Musi Banyuasin ditangkap KPK. Bapak kos panggil saya.

"Rif! Itu Bupati Banyuasin ketangkap KPK loh! Bupati kamu kan?"

Hadeuh.. si Bapak.. Salah sangka dia..

"Bapak, yang ditangkap itu bener bupati saya. Tapi bukan bupati Banyuasin, itu bupati Musi Banyuasin. Beda pak"

"Oh gitu ya? Kirain sama. Hihi"

Zzz..

So, teman. Sekarang kan udah tau nih, Musi Banyuasin dan Banyuasin jelas berbeda. Jangan disamain lagi ya. Kalo masalah biar gampang nyebutnya, dan nggak kepanjangan, kami punya singkatan nama kok. Sebut aja MUBA, pastinya lebih gampang daripada "Musi Banyuasin" kan?

Jumat, 29 Januari 2016

Ane Futusin Ente!

Saya termasuk orang yang kecanduan medsos. Udah dekat ke FoMO kali ya. Tujuan utama saya akses medsos adalah untuk cari update informasi terbaru. Secara lah ya, informasi di medsos mengalir lebih deras daripada media umum. Walaupun belum pasti juga kebenarannya.

Akses ke medsos juga bagi saya adalah hiburan. Di tengah stress nulis laporan, misalnya - akses ke medsos bisa jadi peredam stress sejenak. Konten-konten yang dibagikan para warga medsos sudah cukup menghibur.


Tapi, di linimasa medsos bukan cuma ada konten menghibur. Disana juga mengalir konten-konten yang kadang bikin sesak napas. Apalagi saat rame even politik semacam pilpres dan pilkada kemarin. Buka medsos malah jadi tambah stress.

Politik dan media sosial
(sumber gambar: 
http://webdenker.ch/)

Satu tokoh yang belakangan terus terkenal adalah blogger (katanya sih dulunya blogger) yang selalu muncul dengan pernyataan kontroversial-nya. Sebut saja Mr J. Melalui laman/page-nya di Facebook, si bapak itu rajin dan tekun sekali menyebarkan konten-konten yang menyulut komentar pro dan kontra. Komentarnya lebih banyak ditujukan untuk politikus yang berkuasa sekarang. You know what I mean...


Saya nggak ada kepentingan sama pihak manapun, tapi saya mau bilang kalo saya nggak suka sama cara beliau. Nggak suka caranya loh ya, bukan sama orangnya. Apakah karena paham politik saya berseberangan sama beliau? Nggak kok. Saya sama dengan beliau, mungkin. Hanya saja, menurut saya he is too much...

Maka sejak dari awal beliau muncul, lalu ngetren, saya nggak pernah berniat untuk follow page-nya. Saya nggak mau pusing aja ngeliat komentar pro dan kontra yang muncul di setiap konten yang beliau sebar.

Tapi, yang ngeselin adalah konten-konten itu tetap aja mengalir di timeline saya. Kok bisa? Karena algoritma Facebook yang memungkinkan itu. Teman-teman yang kebetulan mengikuti page beliau, nampaknya rajin sekali like dan bahkan share konten-konten itu. Lalu semua temannya termasuk saya, pasti baca juga semua kontennya.

Ya kita mah nggak tau ya itu konten emang bener atau nggak. Saya nggak peduli itu. Yang bikin saya 'jijik' adalah keributan yang ditimbulkannya. Itu yang bikin sesak napas.

Maka, sampai lah saya pada satu ide, putusin aja dia! Haha *ketawa iblis*

Yap. Ane futusin ente. Saya block semua konten yang berasal dari page beliau. Walhasil, timeline saya sekarang bersih dari konten beliau. Hati pun jadi lebih adem. Akses medsos bisa jadi hiburan lagi.


Untuk akun pribadi, bahkan akun teman sendiri, kalo konten-nya sering bikin sesak nafas juga biasanya saya putusin.

Putusin gimana rif?



Bukan saya block, tapi saya unfriend. Haha

Toh nggak berteman, atau ngeblock akun sosmed seseorang, bukan berarti bermusuhan di dunia nyata kan?

Ane futusin aja ente!

Rabu, 27 Januari 2016

Menjadi Blogger di Media Jurnalisme Warga

Sebelum mantap ngeblog dengan blog ini, saya sempat nyicipin beberapa platform blog. Blog pertama yang saya buat (2008) adalah blog ini, dengan alamat kangar0o.blogspot.com. Lalu karena masih pengen nyicipin platform blog lain, saya pernah coba Wordpress, baik di Wordpress.com (akwi.wordpress.com) atau juga blog kampus dan Blogdetik yang kebetulan pakai platform Wordpress. Saya juga sempat numpang ngeblog di Kompasiana, walaupun cuma nyumbang 2 post. Sebelum balik lagi ke Blogspot dan mantap dengan blog ini.

Dua platform yang terakhir saya sebut, Blogdetik dan Kompasiana - adalah media jurnalisme warga dalam bentuk tulisan yang dikelola oleh 2 media besar: Detik dan Kompas. Banyak juga komunitas blogger Kompasiana bermunculan. Walaupun Blogdetik juga punya komunitas yang nggak kalah eksis, Komunitas Blogger dot Semarang misalnya.

Profile saya di Kompasiana. Bergabung sejak 2012, artikelnya baru 2 :D

Sedikit cerita, saya bahkan sempat nyaris kerja di Kompasiana. Waktu itu saya baru semangat-semangatnya ngeblog di Kompasiana (baca: karena ada lomba) hingga terbitlah 2 post. Iya, cuma 2. Dan kebetulan banget Kompasiana kasih tawaran kerja. Bukan khusus buat saya sih (emang siapa elu rif). Alkisah saya ikutan ngelamar, dan lolos sampai wawancara. Sempat khawatir juga kalo pewawancaranya tanya saya sudah berapa lama aktif di Kompasiana, sudah berapa post. Lah masa saya harus bilang, "sejak seminggu yang lalu pak dan baru 2 post. Hihi". Tapi alhamdulillah mereka nggak tanya itu. Saya pun lolos ke tahap selanjutnya. That was great! Tapi karena satu dan lain hal, justru saya yang mundur. Hihi...

Back to topic...

Dari pengalaman ngeblog di berbagai platform blog, menurut saya ngeblog di media jurnalisme warga semacam Kompasiana dan Blogdetik punya sesuatu yang nggak dipunya platform blog umum semacam Blogger atau Wordpress.

Di media jurnalisme warga, kamu harus siap. Siap bersaing ketat.

Kamsudnyah?

Biasanya di Kompasiana atau Blogdetik, mereka punya semacam algoritma tertentu yang bisa menentukan popularitas artikel. Artikel yang populer biasanya akan diangkat menjadi headline (istilahnya HL). Dan itu nggak gampang. Satu hal yang membanggakan kalo bisa bikin artikel yang jadi headline.

Ngeblog disana juga memungkinkan artikel kamu akan dilihat oleh lebih banyak orang. Kenapa? Karena setiap artikel yang terbit, pasti akan muncul di daftar artikel terbaru di website utama mereka. Dan karena basisnya komunitas, artinya semua user bisa melihat artikel kamu. Dan bukan cuma user Kompasiana atau Blogdetik aja, tapi semua orang. Karena kalo beruntung artikel kamu akan dipromosikan admin di medsos mereka.

Bagus donk rif!

Iya bagus. Tapi seperti kata paman Ben, Dibalik kekuatan besar selalu ada tanggungjawab yang besar pula. Yap, kamu harus siap bertanggungjawab penuh sama apa yang kamu tulis. Apalagi kalo kamu berani nulis artikel dengan tema yang sensitif semacam politik atau agama.

Tapi kan ngeblog di Blogspot atau Wp juga kudu tanggungjawab rif


Ibaratnya gini deh. Ngeblog di Blogspot atau Wordpress ibarat dagang di warung sendiri. Tapi kalo ngeblog di Kompasiana atau Blogdetik, kamu ibarat jualan di pasar, semua orang bisa lihat dagangan kamu, baik pembeli atau juga sesama penjual. Dan mereka bukan cuma jualan 1 barang, tapi buanyaaak. Nggak peduli mereka kenal kamu atau nggak, mereka akan tanya dan beli dagangan kamu. Kalo mereka nggak suka, mereka bakal komplain. Dan bakal didengar semua orang seisi pasar. Reputasi kamu dipertaruhkan. Dan bukan cuma reputasi kamu, tapi reputasi medianya juga. Orang awam kan mana tau kalo Kompasiana atau Blogdetik itu yang nulis adalah warga biasa, bukan jurnalis. Tanggungjawabnya lebih besar bro.

Hihi.. Kok jadi nyerem-nyeremin ya?

Nggak kok. Nggak bermaksud begitu. Dan nggak seseram itu juga. Buktinya banyak tuh komunitasnya. Artinya disana seru-seru aja. Lagian juga kamu kan nggak harus nulis yang serius-serius. Yah nulis artikel selingan yang fresh juga boleh kok.

Ente dari tadi ngomong muter-muter aja rif. Kesimpulannya aja dah


Jadi, kesimpulan yang nggak simpul dari tulisan ini adalah: Saya cuma mau bilang, saya lebih nyaman jualan di warung sendiri. Walaupun yang beli sepi, hanya mereka yang kenal dan tau arah ke warung saya aja yang mau mampir. Pengen sih coba sesekali ngeblog disana. Tapi saya belum tau kapan. Ilmu saya kyknya belum cukup nih. Belum siap euy. Takut kalo apa yang saya tulis nggak bisa saya pertanggungjawabkan. Hihi..

Mungkin suatu hari nanti...

Kamu, pernah ngeblog disana juga? Atau sekarang masih aktif?

Sabtu, 23 Januari 2016

Analogi Kasir Minimarket untuk Kasus Sopir Taksi vs Polisi

Video sopir taksi ditilang polisi gegara (katanya) parkir di bawah rambu dilarang berhenti, tampaknya lagi ngehitz banget ya? Video yang diambil dari salah satu acara di TV swasta, lalu diunggah oleh seseorang, dan menjadi viral di medsos.

Saya sempat nonton acaranya di TV. Nggak nyangka juga bakal viral di medsos. Terakhir saya cek videonya di Youtube, sepertinya sudah dihapus. Karena berkaitan dengan hak cipta. Dari hasil gugling, saya cuma dapet skrinsutnya begini:

Video polisi tilang sopir taksi


Tanpa bermaksud membela polisi dan mengesampingkan rasa kasihan pada sopir taksi, saya mikirnya kok nggak sepatutnya kita menghakimi pak polisi itu ya?
Emang kenapa rif? Kyknya emang pak sopir nggak salah deh. Kasian tauu

Mari kita ambil analogi kasir minimarket sebagai contoh kasus.

Andai kamu belanja di minimarket Betamart: 1 botol mijon (Rp5000) + 1 bungkus kacang atom Perkutut (Rp4900). Lalu bayar ke teteh kasir Rp10000. Seketika teteh kasir bilang: "Seratus rupiahnya disumbangkan aja?". Lalu dengan perasaan dongkol kamu mengangguk terpaksa. Nggak lama setelah itu, sudah hadir status sumpah serapah untuk minimarket Betamart di halaman sosmed-mu. Padahal sejatinya kamu berhak menolak untuk menyumbangkan kembalian seratus perak itu.

Tapi gimana jadinya andaikan kamu belanja di minimarket Tetamart: 1 sandwich (Rp4000) + 1 susu kotak (Rp3700). Lalu kamu kasih Rp10000 ke teteh kasir. Si teteh kasih kamu kembalian Rp2500. Mukamu akan cerlang cemerlang karena teteh kasir kasih kembalian berlebih. Pujian untuk Tetamart? Bodo amat lah ya.

Beda kasus, beda dampaknya yah.

Trus hubungannya sama sopir taksi apa rif?

Hubungannya adalah, kebetulan kasus sopir taksi ditilang itu adalah sama dengan kasus kamu belanja di Betamart. Kebetulan aja dapet yang nggak ngenakin. Makanya segala sumpah serapah bermunculan bak pengasah batu di musim batu.

Coba aja kalo dapet kasus kyk yang di Tetamart. Misalnya di lampu merah, pak polisi kasih komando supaya setiap kendaraan terus maju, walaupun lampu lalin lagi merah. Apakah kamu protes ke pak polisi? Nggak lah yaw... Trus apakah ada pujian, atau paling nggak ucapan terimakasih ke pak polisi karena sudah memperlancar perjalanan kamu? Rasanya nggak ada. Kenapa? Ya karena kamu pikir itu memang tugas polisi. Ya nggak?

Padahal sebenernya, dengan melakukan penilangan, itu juga adalah usaha pihak yang berwajib untuk memperlancar lalu lintas, dan itu memang tugas mereka.
Baca juga: Kena Tilang
Ya, betul banget. Seperti yang banyak dibahas orang, pak sopir nggak salah karena dia disana hanya berhenti, bukan parkir, sesuai argumennya. Sehingga pak polisi nggak berhak menilang karena rambunya adalah rambu dilarang parkir. Saya setuju kok.

Tapi kalo cuma lihat dari video, scope-nya kecil banget. Kita nggak tau keadaan sebenarnya di tempat kejadian. Kita nggak tau apakah pak sopir taksi memang cuma berhenti sebentar, atau malah sudah parkir lama disana, sempat keluar mobil, mampir ke warkop dulu mungkin, lalu baru masuk kembali ke mobil, sesaat sebelum pak polisi datang. Ada yang tau kejadian sebenarnya?

Kita nggak tau bro. So please stop blaming the police just because the 3 minutes video you watched.

Gimana menurut kamu?
Update
Barusan saya lihat di sosmed malah ada yang bikin meme begini:

Hmmm... Andai disana ada warkop, dan nggak ada tenda polisi, mungkin saya juga akan dongkol sama pak polisi. Tapi karena disana ada tenda polisi, saya jadi nggak peduli sama foto itu. Kenapa? Karena anggapan saya pak polisi berhenti disana memang karena ada tugas. Petugas boleh meng-override rambu kok. Apakah itu melanggar? Nggak. Selama itu adalah bagian dari tugasnya. Sama halnya dengan polisi yang memperbolehkan kendaraan tetap melaju di perlintasan saat lampu merah. Itu juga melanggar undang-undang, tapi nggak ada tuh yang protes.

Selasa, 27 Januari 2015

Whatsapp Web: Solusi Hemat Akses Data via Mobile? Nggak juga tuh

Untuk pemuda fakir paket data seperti saya, menghemat konsumsi paket data adalah suatu keharusan. Apalagi saat kuota paket data di perangkat mobile tercinta mulai menipis. Munculnya indikator ketersediaan wifi ibarat oase di padang pasir. Note: apalagi kalo ada label gratis-nya.


Saya perlu koneksi data di perangkat mobile untuk apa?

Utamanya sih untuk akses perpesanan, terutama Whatsapp. Karena buat saya, biasanya banyak informasi penting yang disampaikan via media perpesanan yang katanya paling populer ini.

Masalahnya adalah Whatsapp mutlak butuh koneksi internet. Tanpa koneksi, Whatsapp jelas tak berdaya. Solusi paling pas untuk fakir kuota adalah cari wifi gratis.

Tapi ada solusi lain yang lebih cakep!


Jumat, 10 Oktober 2014

Minggu, 28 September 2014

Spongebob: Antara Salah Kaprah dan Anggapan Negatif

Suatu hari, Spongebob dan Sandy sedang bersantai di padang rumput, menatap langit biru. Spongebob berkata bahwa makhluk darat itu tidak bisa melakukan apa-apa, terutama bernafas dalam air. Sandy tersinggung lalu menantang Spongebob untuk ikut kontes mendaki gunung, yang pernah dia menangkan.



Ditantang Sandy, Spongebob malah balik menantang Sandy untuk lomba lari menuju Krusty Krab untuk mengetahui siapa yang lebih cepat, yang akhirnya dia menangkan.


Lalu..



Jumat, 12 September 2014

Hargailah Mereka

Setiap bepergian dengan pesawat terbang, setelah pesawat mendarat sempurna di bandar udara tujuan, aku biasanya jadi yang paling akhir beranjak dari seat. Aku akan tetap duduk santai, dengan seat belt masih melingkar, sekedar menoleh ke luar, melihat kesibukan hilir mudik petugas bandara dan burung-burung besi di luar sana.

Pramugari Garuda Indonesia
Selain karena pasti para penumpang lainnya sudah berdiri dan bergegas sibuk mengambil barang-barang di bagasi atas, ada alasan lain yang membuat aku tetap duduk santai adem ayem.

Jumat, 29 Agustus 2014

The Next Nona D

The Next Nona D

Belum genap setahun yang lalu, dunia maya Indonesia dihebohkan dengan ulah 'cewek' (agak ragu menyebutnya dengan 'wanita'. Hihi) yang berkicau di media sosial Path, menggerutui ibu-ibu hamil di kereta commuter line. Ya, nona D, kalo kamu masih ingat. Tapi setelah nona D membuat permohonan maaf, publik mulai melupakan ulahnya. Mohon maaf ya untuk mbak D, aku jadi nyebut nama kamu lagi. Anggap aja ini nona D yang lain. Hihi..


Contoh yang bagus. Kita semua (secara nggak sadar) adalah reporter di kehidupan sehari-hari kita. Mau jadi reporter yang baik donk?
*bukan bermaksud ngiklan


Minggu, 17 Agustus 2014

Berjuang ala Blogger

Dulu, aku pernah aktif di sebuah komunitas blogger di kampus. Komunitas itu punya website/blog bersama, dimana setiap member bergiliran untuk membuat tulisan disana. Waktu tiba giliranku menulis, kalo nggak salah waktu itu bertepatan dengan peringatan hari Bumi sedunia. Dan kebetulan aku abis ngeliat secara langsung rendahnya kesadaran temen-temen oknum mahasiswa, penyelenggara acara-acara di kampus, terhadap kebersihan lingkungan. Segera aku dapat ide tulisan. Aku mau bikin tulisan kritis untuk mahasiswa yang katanya kritis, tapi kyknya kurang melek lingkungan. Maksudnya sih mau buka pikiran dan ngajak temen-temen untuk lebih peduli sama lingkungan.
Segera setelah tulisan itu aku publish, banyak komentar masuk. Kebanyakan memang dari temen-temen komunitas itu sendiri. Tapi ada satu komentar dari seseorang yang kyknya bukan anggota komunitas.

Siapa dia? Apa komentarnya?

Kamis, 07 Agustus 2014

Viral Marketing: Haruskah Membodohi?

Siapa yang pernah lihat status berikut di medsos?
Beneran memancing reaksi kita yah. Bawaannya pengen nge-like, komentar, atau bagikan. Tuh liat aja jumlah komentar, like, dan share-nya, ribuan! Tapi mas bro, kalo kamu pernah nge-like, komentar, atau membagikan status-status seperti itu, percayalah: kamu udah dikibulin.

Jumat, 01 Agustus 2014

Manfaatkan Fitur Unfriend Yuuk

Itu judulnya retoris banget yah. Hihihi..
Biarin, emang maksudnya untuk menghimbau kok :D

Aku, termasuk orang yang masih setia memanfaatkan media sosial. Facebook, twitter, instagram, dan Google+. Satu alasan kenapa aku masih aktif di medsos adalah karena ada banyak sumber informasi yang masih aku butuhkan di medsos. Biasanya memang informasi-informasi akademis sengaja di-post di medsos, oleh beberapa pihak terkait. Di medsos, informasi-informasi itu disampaikan dengan lebih up-to date daripada di website resminya. Ya, aku masih butuh informasi-informasi itu. Maklum, masih mahasiswa :D

Karena terlibat di medsos, interaksi-interaksi dengan sesama pengguna medsos, pastinya aku alami. Interaksi dengan berbagi status atau tweet, berbagi media (foto, video, tautan, dsb), saling berbalas komentar, atau hanya sekedar menjadi silent reader di timeline. Dan nggak jarang, ada aja interaksi yang akhirnya membuat aku sendiri nggak enak hati, kesel, dan segala perasaan kurang enak lainnya. Biasanya karena tindakan dan sikap "teman" di medsos yang agak diluar ekspektasi.

Senin, 28 Juli 2014

Lebaran dan Naik Kelas

Lebaran. Siapa sih umat muslim yang nggak mau ngerayain hari raya yang satu ini. Apalagi Idul Fitri, hari raya Islam yang bisa dibilang paling heboh dan rame. Semua orang punya cara masing-masing untuk menyambut dan merayakan lebaran.

Salah satunya mudik.

Bagi para perantau, mudik jadi cara ampuh untuk melepas rindu, berkumpul bersama sanak saudara di kampung halaman. Nggak peduli harus ngabisin THR, harus desak-desakan di stasiun, harus berjam-jam nunggu boarding yang kadang kena delay juga, yang penting kangennya ilang.

Kamu mudik nggak?

Sabtu, 19 Juli 2014

Bahagia Bukan Cuma Karena Uang kok, Bro

Bahagia Bukan Cuma Karena Uang kok, Bro

Pagi ini, setelah santap sahur, sambil menunggu adzan subuh, aku seperti biasa sekedar browsing-browsing ringan. Cek pesbuk, cek blog (walau tetep sepi-sepi aja), cek imel, dll. Dasar si Arif, bukannya ngaji gitu ya.. hihi

Dari hasil cuci mata di pesbuk, ada satu status dari seorang teman yang sempet bikin aku mikir, sebut saja namanya Telor Swift. Si Telor Swift kira-kira bilang begini:
"Kuliah yang rajin, supaya bisa lulus dengan nilai bagus, lalu bisa dapat kerjaan dengan gaji tinggi" merupakan didikan Belanda agar Indonesia nggak maju-maju 
Hmmm... Terlepas dari benar atau nggak-nya pernyataan terakhir, didikan Belanda agar Indonesia nggak maju-maju - menurut aku status ini ada benarnya juga. Kita tau, hampir semua dari kita, seperti terdidik dengan dogma "sekolah untuk kerja". Itu yang ada di pikiran banyak dari orangtua kita, lalu menurun ke anak-anaknya.

Rabu, 16 Juli 2014

Jangan Kuliah di Fakultas Teknik!

Kemarin, 10 menit jelang berbuka puasa. Seperti biasa, acara TV jadi teman menanti buka puasa. Aku, bapak, ibu, dan adik-adik memang biasa buka puasa bersama di rumah dengan TV menjadi pencair suasana, menjadi bahan obrolan dan candaan. Hingga muncul iklan produk bumbu masak siap saji, ibu pun berkomentar.

Ibu: "Sekarang masak makin gampang. Bumbu-bumbu udah siap. Tinggal pake"

Dan tiba-tiba bapak menimpali.

Bapak: "Itulah makanya. Teknologi semakin canggih, semakin membuat orang malas"

Lalu bapak juga nambahin komentar-komentar dan contoh-contoh lainnya. Ibu cuma mengangguk mengiyakan. Sambil tetap fokus ke TV.

Aku dalam diam membatin, "Hmm.. kyknya bapak lupa nih. Anaknya ini pernah kuliah di jurusan teknik, fakultas teknik. Anaknya ini seorang engineer/insinyur. Yang pernah belajar kenapa dan bagaimana teknologi ditemukan"

Lalu saat komentar bapak dan ibu habis, suasana tenang, aku dengan sedikit bercanda, ikut menimpali

Rabu, 02 Juli 2014

Kenapa Harus Buku Nikah?

Awal-awal bulan puasa gini, biasanya ada apa aja sih yang rame? Jalanan menjelang magrib pasti macet, pasar juga makin rame, warteg Adi Jaya udah dijajah para mahasiswa kelaparan dari abis ashar, shaff shalat tarawih di masjid masih sampe belakang, dan laen-laen.

Eittss.. Ada satu lagi tempat yang rame kalo awal-awal bulan puasa gini: tempat hiburan malam. Loh kok rame? Ramenya sama bapak-bapak satpol PP, yang sibuk ngerazia para pengunjung tempat hiburan malam yang harusnya tutup menjelang bulan puasa. Selain tempat hiburan malam, 'hotel melati' juga biasanya mendadak rame gara-gara disambangin razia bapak-bapak satpol PP. Biasanya banyak aja tuh pasangan-pasangan nggak resmi yang ketangkap basah. Hadeuh...

Biasanya, mereka yang ketangkap basah gitu, disuruh nunjukin bukti nikah. Sering kan kita baca di 'koran lampu merah', kira-kira isinya begini: "puluhan pasangan terjaring razia petugas. Mereka tidak dapat menunjukkan bukti nikah yang sah".

Emang, bukti nikah di Indonesia tuh kyk gimana sih?

Senin, 30 Juni 2014

Konsumen Adalah Raja: Jadi Raja Harus Bijak donk

Konsumen Adalah Raja: Jadi Raja Harus Bijak donk

Hari kedua puasa di Bulan Ramadhan. Kamu? Masih puasa?

Selamat menjalankan ibadah puasa yah buat semuanya. Semoga kita terus diberi kesehatan untuk beribadah di bulan suci ini

*dan aku, semoga diberi kekuatan untuk tetap konsisten nulis blog di bulan puasa ini

Mengawali barisan cerita di bulan puasa kali ini, aku mau sedikit share suatu yang aku lihat hari Jumat (27 Jun) lalu.

Waktu itu beberapa hari aku dibuat pusing gara-gara laptop-ku, si item - tiba-tiba sedikit error, gara-gara keisenganku sendiri. Modern apps di Windows 8.1 nggak bisa dibuka. Ada tanda silang kecil di setiap tile apps-nya. Sudah coba gugling, siapa tau ada cara benerinnya. Udah refresh beberapa kali tapi tetap nggak bisa. Akhirnya aku putuskan untuk datangin dealer tempat aku beli laptop itu. Awalnya sempet males bawa kesana karena ragu itu nggak masuk dalam klaim garansi. Jadi nekat aja ke dealer-nya.

Sampai disana, aku ceritakan semua kronologi sebelum si item rusak. Si mas-nya cuma ngangguk-ngangguk. Setelah meriksa sebentar, katanya ini bukan termasuk klaim garansi, tapi bisa dibantu benerin. Solusinya:

Selasa, 10 Juni 2014

Melaju Lambat di Lajur Cepat

Seiring dengan meningkatnya aktivitas, popularitas, dan mobilitas, sejak beberapa bulan ini aku akhirnya menjadi anak motor. Status yang sebenernya sempat aku hindari.

Di jalan, beberapa hal-hal unik dan kadang bikin kening berkerut sering aku lihat. Mulai dari zebra cross yang dijajah para pengendara sepeda motor, lampu lalin yang seperti nggak ada fungsinya, angkot yang ngetem sembarangan, dan banyak hal lainnya. Dan satu yang kadang bikin kesel, banyak pengguna jalan, terutama yang beroda empat, yang sering berjalan lambat padahal mereka ada di lajur cepat untuk mendahului.

Kondisi umum jalan di Indonesia adalah jalan 2 lajur untuk 2 arah, tanpa pembatas jalan. Jadi kalo mau overtake, harus sedikit nyerobot lajur berlawanan. Masalahnya, kalo ada mobil yang berjalan lambat dan mepet ke garis tengah jalan, kendaraan lain di belakangnya yang mungkin lagi buru-buru bakal kesulitan overtake. Karena tipikal orang Indonesia yang kurang sabar, bisa dipastiiin klakson dari kendaraan di belakangnya bakal berbunyi nyaring.

Ilustrasinya begini:

Jumat, 06 Juni 2014