Selasa, 16 Februari 2016

Ini Cara Saya Hack Password File PDF

Ini cara saya hack password file pdf tanpa software cracker atau software tambahan lain. Mungkin banyak teman-teman yang sudah tau trik ini sebelumnya. Tapi baiklah, nggak ada salahnya kalo saya bagikan juga di blog ini.

Sebagai (mantan) mahasiswa, saya seringkali berurusan dengan file pdf (dalam bentuk e-book, jurnal, dll). Beruntungnya, nggak sedikit file pdf itu yang sengaja 'dikunci' oleh penulisnya. Ada yang dikunci supaya pembaca hanya bisa membaca dan mencetak tanpa bisa mengedit, bahkan ada juga yang dikunci supaya hanya bisa dibaca oleh pembaca tertentu. Entah untuk tujuan apa.

cara buka password pdf
Ciri file PDF yang terlindungi

Tools editing tidak aktif

Nah, trik hack password file PDF yang akan saya jabarkan kali ini adalah untuk file PDF yang security-nya hanya sebatas bisa dibuka, tapi tidak bisa diedit, atau istilahnya viewable pdf with restrictions. Karena di trik ini kita perlu membuka file PDF-nya.

So, lets cekidot!


No More Than a Door With a Broken Lock

Ada yang bilang sih gitu, file pdf terkunci tidaklah lebih daripada pintu dengan kunci yang rusak. Security-nya nggak betul-betul kuat, tidak terlalu terlindungi.

Cieilee sombongnya...

Hehe.. nggak lah. Itu kata orang, saya copy dari salah satu website pembuka file pdf terkunci.

Cetak Sebagai File Baru

Triknya adalah dengan membuat copy baru dari file PDF yang berpassword itu. Apakah dengan copy-paste filenya? Bukan! Atau dengan save as file pdf baru? Tidak juga! Karena dengan copy-paste atau save as, file baru yang dihasilkan akan tetap terkunci password yang sama.

Trus gimana rif?

Cetak saja sebagai file baru!

Pertama, buka filenya. Bisa dengan software PDF reader atau PDF editor apa saja.


cara buka password pdf 2

Kedua, print. Pada jendela print, di pilihan printer name, pilih saja Adobe pdf. Atau kalo kamu punya Nitro pdf, disana juga ada pilihan Nitro PDF creator. Silakan dipilih saja salah satu. Untuk pengaturan lain silakan disesuaikan. Lalu klik OK. Tentukan lokasi penyimpanannya.

cara hack password pdf

Maka file PDF baru akan terbentuk.

Dan selamat! File PDF kamu sudah tidak terkunci! Kamu bisa mengedit sepuasnya.

Semua tools editing sudah aktif

Gampang banget kan? Semoga bermanfaat lah ya. Cheers!

Senin, 01 Februari 2016

Pindah Kost Lagi

Kemarin, Minggu (31/1) - karena satu dan lain hal, saya pindah kos (lagi). Setelah 2.5 tahun ngerasain jadi warga kota Bogor, kali ini saya balik ke habitat asal, Darmaga, surga kecil bagi mahasiswa di kampus saya. Tempat dimana perut bisa kenyang hanya dengan 6ribu saja, rambut gondrong bisa botak dengan bayar 100ribu masih dapet kembalian 90ribu, setumpuk baju kucel bisa clink dengan 4ribu doank, dan tempat dimana semua kebutuhan ala mahasiswa rantau tersedia. Darmaga! Aku kembali!

Kos lama saya di Tajur. Sekarang tinggal kenangan

Sejak 2013 saya ngekos di Tajur, yang dekat dengan pusat kota Bogor. Dulu, saat saya pindah dari Darmaga ke Tajur, reaksi dari orang-orang disana adalah, "Hah? Darmaga?? Jauh amat??". Dan sekarang, reaksi yang sama juga terjadi, "Hah? Tajur?? Jauh amat??". Hihi.. Ya, Tajur dan Darmaga emang jauuuuh beudh. Tajur ada di dekat pusat kota, sedangkan Darmaga jauuuh dari hiruk pikuk kota.

Saya tinggalkan kos Tajur dengan segala kenangan. Ada suka, ada juga duka. Bapak dan Ibu kos dan anak-anaknya yang baik banget, ibu warung tempat saya biasa beli kerupuk, ibu tukang sayur tempat saya biasa beli bawang merah sejumput, mas tukang gorengan langganan saya beli gorengan 3 biji, dan banyak lagi. Semoga masih diberi kesempatan mampir kesana, sekedar silaturahim mungkin.


Sebelum pergi, jangan lupa tinggalin backlink dulu

Suasana baru

Kos baru saya ada di daerah Perwira. Sengaja saya pilih Perwira karena saya mau dapat suasana baru. Empat tahun saya di Darmaga, cuma berkutat di Babakan Lio.


Agak sulit juga sampai akhirnya saya dapet kos yang sekarang. Karena saya cari kos cowok dengan tarif bulanan dan fasilitas kamar mandi dalam kamar. Kombinasi yang sulit untuk kategori kos-kosan mahasiswa. Kebanyakan kos disini memang memasang tarif tahunan. Dan untuk yang punya fasilitas kamar mandi dalam, biasanya cuma kos-kosan cewek.

Tapi akhirnya dapat juga kos yang sesuai kriteria yang saya mau. Sebuah kos sederhana (walaupun tarif bulanannya sedikit lebih mahal daripada kos cowok kebanyakan). Ukuran kamar 3x3 m, ada kamar mandi, dengan kasur, lemari, dan meja belajar. Cukup nyaman lah.

Dan yang pasti, suasananya saya suka. Memang khusus untuk mahasiswa. Rasanya nggak ada lagi tetangga sebelah kamar yang puter musik dangdut semalaman. Dan saya juga nggak perlu lagi menahan wudhu dari ashar sampai isya cuma gegara tetangga kamar pada nongkrong di balkon.

Baca juga: Sakitnya tuh disini


Bisa kurus lagi!

Tinggal di Darmaga memungkinkan saya untuk lebih banyak jalan kaki. Why? Karena suasananya mendukung. Jalan kaki di jalanan Babakan Raya, pusat kehidupan mahasiswa kampus saya - capeknya nggak berasa. Jalan kaki disini nggak sendirian. Beda dengan jalanan Tajur, jalannya gede, mobilnya seliweran ngebut-ngebut, jalan kaki jadi nggak kece.

Salah satu sudut Babakan Raya (Bara). Pusat kehidupan mahasiswa kampus saya
(sumber: localityphoto.com)

Satu harapan saya, semoga dengan kepindahan ini saya bisa kurus lagi. Yeay! Hehe.. Karena saya sadar, penyebab kenapa salah satu bagian tubuh saya jadi menggelembung adalah karena saya kuger, kurang gerak. Haha.. Makan duduk makan tidur makan lagi ngemil pula, gitu aja terus. Maka seketika menggelembung lah saya. Hiahaha...

Yah asalkan sambil jalan kaki nggak tergoda lirik-lirik segala jajanan disana. Pertambahan kecembungan perut bisa makin berbanding lurus dengan pengempisan dompet.

Semoga bisa kurus lagi. Aamiin.. Yeay!

Jumat, 29 Januari 2016

Ane Futusin Ente!

Saya termasuk orang yang kecanduan medsos. Udah dekat ke FoMO kali ya. Tujuan utama saya akses medsos adalah untuk cari update informasi terbaru. Secara lah ya, informasi di medsos mengalir lebih deras daripada media umum. Walaupun belum pasti juga kebenarannya.

Akses ke medsos juga bagi saya adalah hiburan. Di tengah stress nulis laporan, misalnya - akses ke medsos bisa jadi peredam stress sejenak. Konten-konten yang dibagikan para warga medsos sudah cukup menghibur.


Tapi, di linimasa medsos bukan cuma ada konten menghibur. Disana juga mengalir konten-konten yang kadang bikin sesak napas. Apalagi saat rame even politik semacam pilpres dan pilkada kemarin. Buka medsos malah jadi tambah stress.

Politik dan media sosial
(sumber gambar: 
http://webdenker.ch/)

Satu tokoh yang belakangan terus terkenal adalah blogger (katanya sih dulunya blogger) yang selalu muncul dengan pernyataan kontroversial-nya. Sebut saja Mr J. Melalui laman/page-nya di Facebook, si bapak itu rajin dan tekun sekali menyebarkan konten-konten yang menyulut komentar pro dan kontra. Komentarnya lebih banyak ditujukan untuk politikus yang berkuasa sekarang. You know what I mean...


Saya nggak ada kepentingan sama pihak manapun, tapi saya mau bilang kalo saya nggak suka sama cara beliau. Nggak suka caranya loh ya, bukan sama orangnya. Apakah karena paham politik saya berseberangan sama beliau? Nggak kok. Saya sama dengan beliau, mungkin. Hanya saja, menurut saya he is too much...

Maka sejak dari awal beliau muncul, lalu ngetren, saya nggak pernah berniat untuk follow page-nya. Saya nggak mau pusing aja ngeliat komentar pro dan kontra yang muncul di setiap konten yang beliau sebar.

Tapi, yang ngeselin adalah konten-konten itu tetap aja mengalir di timeline saya. Kok bisa? Karena algoritma Facebook yang memungkinkan itu. Teman-teman yang kebetulan mengikuti page beliau, nampaknya rajin sekali like dan bahkan share konten-konten itu. Lalu semua temannya termasuk saya, pasti baca juga semua kontennya.

Ya kita mah nggak tau ya itu konten emang bener atau nggak. Saya nggak peduli itu. Yang bikin saya 'jijik' adalah keributan yang ditimbulkannya. Itu yang bikin sesak napas.

Maka, sampai lah saya pada satu ide, putusin aja dia! Haha *ketawa iblis*

Yap. Ane futusin ente. Saya block semua konten yang berasal dari page beliau. Walhasil, timeline saya sekarang bersih dari konten beliau. Hati pun jadi lebih adem. Akses medsos bisa jadi hiburan lagi.


Untuk akun pribadi, bahkan akun teman sendiri, kalo konten-nya sering bikin sesak nafas juga biasanya saya putusin.

Putusin gimana rif?



Bukan saya block, tapi saya unfriend. Haha

Toh nggak berteman, atau ngeblock akun sosmed seseorang, bukan berarti bermusuhan di dunia nyata kan?

Ane futusin aja ente!

Rabu, 27 Januari 2016

Menjadi Blogger di Media Jurnalisme Warga

Sebelum mantap ngeblog dengan blog ini, saya sempat nyicipin beberapa platform blog. Blog pertama yang saya buat (2008) adalah blog ini, dengan alamat kangar0o.blogspot.com. Lalu karena masih pengen nyicipin platform blog lain, saya pernah coba Wordpress, baik di Wordpress.com (akwi.wordpress.com) atau juga blog kampus dan Blogdetik yang kebetulan pakai platform Wordpress. Saya juga sempat numpang ngeblog di Kompasiana, walaupun cuma nyumbang 2 post. Sebelum balik lagi ke Blogspot dan mantap dengan blog ini.

Dua platform yang terakhir saya sebut, Blogdetik dan Kompasiana - adalah media jurnalisme warga dalam bentuk tulisan yang dikelola oleh 2 media besar: Detik dan Kompas. Banyak juga komunitas blogger Kompasiana bermunculan. Walaupun Blogdetik juga punya komunitas yang nggak kalah eksis, Komunitas Blogger dot Semarang misalnya.

Profile saya di Kompasiana. Bergabung sejak 2012, artikelnya baru 2 :D

Sedikit cerita, saya bahkan sempat nyaris kerja di Kompasiana. Waktu itu saya baru semangat-semangatnya ngeblog di Kompasiana (baca: karena ada lomba) hingga terbitlah 2 post. Iya, cuma 2. Dan kebetulan banget Kompasiana kasih tawaran kerja. Bukan khusus buat saya sih (emang siapa elu rif). Alkisah saya ikutan ngelamar, dan lolos sampai wawancara. Sempat khawatir juga kalo pewawancaranya tanya saya sudah berapa lama aktif di Kompasiana, sudah berapa post. Lah masa saya harus bilang, "sejak seminggu yang lalu pak dan baru 2 post. Hihi". Tapi alhamdulillah mereka nggak tanya itu. Saya pun lolos ke tahap selanjutnya. That was great! Tapi karena satu dan lain hal, justru saya yang mundur. Hihi...

Back to topic...

Dari pengalaman ngeblog di berbagai platform blog, menurut saya ngeblog di media jurnalisme warga semacam Kompasiana dan Blogdetik punya sesuatu yang nggak dipunya platform blog umum semacam Blogger atau Wordpress.

Di media jurnalisme warga, kamu harus siap. Siap bersaing ketat.

Kamsudnyah?

Biasanya di Kompasiana atau Blogdetik, mereka punya semacam algoritma tertentu yang bisa menentukan popularitas artikel. Artikel yang populer biasanya akan diangkat menjadi headline (istilahnya HL). Dan itu nggak gampang. Satu hal yang membanggakan kalo bisa bikin artikel yang jadi headline.

Ngeblog disana juga memungkinkan artikel kamu akan dilihat oleh lebih banyak orang. Kenapa? Karena setiap artikel yang terbit, pasti akan muncul di daftar artikel terbaru di website utama mereka. Dan karena basisnya komunitas, artinya semua user bisa melihat artikel kamu. Dan bukan cuma user Kompasiana atau Blogdetik aja, tapi semua orang. Karena kalo beruntung artikel kamu akan dipromosikan admin di medsos mereka.

Bagus donk rif!

Iya bagus. Tapi seperti kata paman Ben, Dibalik kekuatan besar selalu ada tanggungjawab yang besar pula. Yap, kamu harus siap bertanggungjawab penuh sama apa yang kamu tulis. Apalagi kalo kamu berani nulis artikel dengan tema yang sensitif semacam politik atau agama.

Tapi kan ngeblog di Blogspot atau Wp juga kudu tanggungjawab rif


Ibaratnya gini deh. Ngeblog di Blogspot atau Wordpress ibarat dagang di warung sendiri. Tapi kalo ngeblog di Kompasiana atau Blogdetik, kamu ibarat jualan di pasar, semua orang bisa lihat dagangan kamu, baik pembeli atau juga sesama penjual. Dan mereka bukan cuma jualan 1 barang, tapi buanyaaak. Nggak peduli mereka kenal kamu atau nggak, mereka akan tanya dan beli dagangan kamu. Kalo mereka nggak suka, mereka bakal komplain. Dan bakal didengar semua orang seisi pasar. Reputasi kamu dipertaruhkan. Dan bukan cuma reputasi kamu, tapi reputasi medianya juga. Orang awam kan mana tau kalo Kompasiana atau Blogdetik itu yang nulis adalah warga biasa, bukan jurnalis. Tanggungjawabnya lebih besar bro.

Hihi.. Kok jadi nyerem-nyeremin ya?

Nggak kok. Nggak bermaksud begitu. Dan nggak seseram itu juga. Buktinya banyak tuh komunitasnya. Artinya disana seru-seru aja. Lagian juga kamu kan nggak harus nulis yang serius-serius. Yah nulis artikel selingan yang fresh juga boleh kok.

Ente dari tadi ngomong muter-muter aja rif. Kesimpulannya aja dah


Jadi, kesimpulan yang nggak simpul dari tulisan ini adalah: Saya cuma mau bilang, saya lebih nyaman jualan di warung sendiri. Walaupun yang beli sepi, hanya mereka yang kenal dan tau arah ke warung saya aja yang mau mampir. Pengen sih coba sesekali ngeblog disana. Tapi saya belum tau kapan. Ilmu saya kyknya belum cukup nih. Belum siap euy. Takut kalo apa yang saya tulis nggak bisa saya pertanggungjawabkan. Hihi..

Mungkin suatu hari nanti...

Kamu, pernah ngeblog disana juga? Atau sekarang masih aktif?