Apa istimewanya "kita"?

4 hari yang lalu kita sama-sama memperingati suatu hari bersejarah, Hari Sumpah Pemuda. Suatu hari bersejarah, ketika puta dan putri bangsa ini, berjanji, bersumpah, untuk bersatu, dengan tumpah darah satu, bangsa satu, dan bahasa satu, Indonesia. 

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928
Tiga larik yang dahsyat. Hanya dengan tiga larik, putra dan putri bangsa Indonesia bisa bersatu padu kala itu. Lalu akhirnya mendobrak, menghentak para penjajah, kemudian mengibarkan Sang Merah Putih.

Tapi...

Satu hal yang miris terjadi sekarang. Merujuk pada larik ketiga. Disana dijelaskan bahwa bahasa persatuan kita adalah Bahasa Indonesia. Lihatlah nasib bahasa kita. Rusak oleh anak bangsa sendiri.

Satu yang paling aku soroti adalah, hilangnya kata "kami", yang semena-mena digantikan posisinya oleh kata "kita". Sebuah budaya yang diusung oleh anak bangsa sendiri. Hampir setiap saat, terdengar ucapan yang janggal dari mulut para mahasiswa, pemain sinetron, pejabat negara, anggota dewan yang terhormat, dosen, guru, polisi, pelajar, semua lapisan masyarakat. Semuanya entah dengan sadar atau tanpa sadar, mengucap kalimat dengan konteks yang seharusnya menggunakan kata "kami", namun dengan luwesnya mengganti dengan kata "kita", seolah tanpa salah.

Padahal, apa istimewanya "kita"?

Ini bukan kali pertama aku berkoar tentang hal yang sama. Beberapa post tentang kesalahan penggunaan kata "kita" pernah aku publish.

Kembali ke Sumpah Pemuda. Andaikan Sumpah Pemuda baru dibuat dan dibacakan di zaman ini, aku khawatir teks-nya akan berubah menjadi:
SUMPAH PEMUDA
Pertama :
- KITA PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KITA PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KITA PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA
Bacalah. Mungkin bagi mereka yang terjangkit virus alayisme akut, teks kedua ini tak ada bedanya dengan teks pertama. Mereka yang terbiasa mengistimewakan kata "kita", dan melupakan kata "kami".

Bayangkan, apa jadinya jika kata "kami" pada teks Sumpah Pemuda diganti dengan kata "kita", menyesuaikan dengan budaya berbahasa anak bangsa zaman sekarang. Apa jadinya?

Bahasa menunjukkan jati diri bangsa. Bersyukurlah, Bahasa Indonesia memberikan dua kata ganti yang berbeda untuk kata ganti orang jamak, kata "kita" dan kata "kami". Tengoklah Bahasa Inggris yang hanya punya kata "we". Maka pergunakanlah kedua kata itu sebagaimana mestinya.

Mungkin penggunaan kata "kita" yang salah dalam percakapan informal masih bisa dimaklumi. Namun fakta yang terjadi, penggunaan kata yang salah ini juga terjadi di ranah formal. Tak jarang para petinggi seringkali dengan sadar mengucap kata "kita" yang salah posisi. Miris...

Namun, penggunaan kata "kita" yang salah dalam percakapan informal juga bisa jadi berpengaruh buruk. Satu yang paling ditakutkan adalah, hilangnya kata "kami", suatu saat. Generasi masa depan Indonesia dikhawatirkan akan merasa asing dengan teks Sumpah Pemuda yang menggunakan kata "kami". Miris...

Apa istimewanya "kita"?

Posting Komentar

12 Komentar

  1. kata kami memang harusnya yg digunakan terutama para pejabat pemerintah selaku abdi masyarakat, jangan malah menggunakan kata 'kita'.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mas. Itu yang saya maksud di post ini

      Hapus
    2. Kenapa hanya dikhususkan kepada pejabat pemerintah? Bukankah kami adalah kata ganti yang lawan kata dari kalian?

      Misalnya: Saya bertanya kepada Sdr. Tabuhgong dan Sdr. Arif, "Membicarakan apa kalian?"

      Lalu salah satu dari anda seharusnya menjawab, "Kami sedang membicarakan Sumpah Pemuda"

      Ini bukan masalah siapa yang menggunakan, tapi kapan menggunakan kata ganti kami. Saya rasa demikian.

      Hapus
    3. ya, pad intinya juga kami tidak melulu membahas subjek yang menggunakan kata ganti yang kurang tepat ini, dalam hal ini mungkin mas agung merasa subjek itu adalah pemerintah. Kami hanya menyayangkan, adanya penggunaan kata ganti yang salah, yang justru dilakukan oleh pihak pemerintah, atau petinggi, pesohor, atau siapalah itu.

      Dan, saya setuju dengan contoh yang mas agung berikan. Kata ganti "kami" adalah lawan untuk kata ganti "kalian". Kita sependapat tentang hal itu.

      Kata ganti "kami" tidak kami permasalahkan disini. Yang kami permasalahkan adalah penggunaan kata ganti "kita" yang secara sengaja digunakan sebagian pihak, menggantikan kata ganti "kita".

      Tengoklah di sinetron. Atau yang paling gres, jika mungkin mas agung menyimak acara coffee break di TV One tadi pagi, ada salah satu gubernur di Jawa, yang secara nyata menggunakan kata ganti "kita". Padahal seharusnya, menurut padanan kalimatnya, kata ganti "kami" lebih tepat digunakan.

      Demikian mas

      Hapus
  2. kalau saya memaknainya:

    kami: saya dan golongan saya berkata pada golongan lain (eksternal, pas untuk menunjukan maksud sumpah pemuda)
    kita: saya dan golongan saya berkata pada golongan saya (internal)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia yang saya maksud mbak. Bedakan dengan penggunaan kata "nggak" yang menggantikan kata "tidak". Kata "nggak" dan kata "tidak" masih memiliki arti dan makna yang sama. Berbeda dengan kata "kita" dan "kami", yang jelas punya perbedaan makna. Sehingga penggunaannya yang salah pada suatu konteks kalimat jelas akan memiliki makna yang berbeda. Bisa terjadi salah penafsiran

      Hapus
  3. Jadi ngingetin dengan konsep kita-kami ala gue sendiri dulu, tapi entah apa lupa. Tapi setuju dengan ente rif, beda antara kita dan kami. Tapi gue lupa apa alesannya T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh. Pernah ngepost tentang ginian juga kang? Wah. Kita sependapat donk... Emang rada kesel sama anak-anak jaman sekarang, asal aja bikin tren

      Hapus
  4. Kita dan kami, kata ganti orang pertama jamak.... kadang salah tempat sih,terlebih pas ngmongnya informal..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan di pembicaraan formal juga ada penggunaan yang salah mas

      Hapus
  5. tunggu-tunggu aku mikir dulu seringan pake kata kita atau kami yak >.<


    *sambil mikir ikutan GA aku aja yuks http://irniirmayani.wordpress.com/2012/10/31/giveaway-sebuah-permintaan/ *tetep promosi* hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha.. dasar yah.. eh aku udah lama nggak kunjung ke blog mbak irni nih... betewe, meritnya udah mbak?

      Hapus

Dear teman. Silakan berkomentar. Tapi khusus untuk post yang telah terbit > 7 hari, mohon maaf komentar kamu nggak langsung muncul, karena harus dimoderasi. Trims